Kamis, 13 Juni 2024

Madzhab Ahlus Sunnah Dalam Menyikapi Perkara Khilafiyah Terkait Qunut Shubuh













 

Madzhab Ahlus Sunnah Dalam Menyikapi Perkara Khilafiyah Terkait Qunut Shubuh
  https://kesesatanfahamummuandini.blogspot.com/2024/06/madzhab-ahlus-sunnah-dalam-menyikapi.html?m=1
     

     Dalam hal ini perlu dipahami beberapa poin permasalahan, diantaranya :

Pertama : Masalah Qunut Shubuh Yang Diperselisihkan Yaitu Merutinkan Membaca Qunut Khusus Dalam Shalat Shubuh

     Adapun membaca doa qunut ketika terjadi nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin, maka perkara ini disyariatkan di semua shalat yang 5 waktu dan tidak hanya shalat subuh. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu,

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ ، فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ ، يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah berdoa qunut selama sebulan dan dilakukan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan shalat Subuh pada setiap rakaat terakhir setelah membaca sami’allahu liman hamidah beliau mendoakan kehancuran bagi Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwan, dan Ushayyah. Kemudian orang-orang di belakangnya mengamini” (HR. Abu Daud no.1443, dihasankan al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Kedua : Terdapat Ijma' Membaca Qunut Shubuh Hukumnya Tidak Wajib

     Para ulama sepakat bahwa membaca qunut di shalat Shubuh tidak wajib. Yang diperselisihkan adalah apakah dianjurkan atau tidak?

Ketiga : Tidak Membaca Ataupun Membaca Qunut Shubuh Tidak Mempengaruhi Keabsahan Shalat Shubuh

     Karena bagi yang berpendapat merutinkan qunut Shubuh, itu sekedar mustahab (dianjurkan) atau boleh. Bukan  termasuk rukun atau wajib shalat. Dan tidak ada ulama yang membid’ahkan qunut Shubuh yang mengatakan tidak sahnya shalat shubuh jika ada qunut Shubuh. Karena amalan ini tidak merusak rukun dan syarat shalat.

    Para ulama sepakat bahwa jika seseorang melakukan kedua-duanya maka ibadahnya sah dan tidak ada dosa padanya, namun mereka berbeda pendapat tentang mana yang lebih baik dan apa yang biasa dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Keempat : Qunut Shubuh Termasuk Khilafiyyah Yang Mu'tabar Sejak Zaman Salafush Sholih

     Tidak bisa dipungkiri bahwa masalah merutinkan doa qunut di dalam shalat Shubuh adalah masalah khilafiyah ijtihadiyyah. Ada 3 pendapat di antara ulama :
(1) Mustahab (dianjurkan), ini pendapat Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad.
(2) Bid’ah, ini pendapat Hanafiyah, Imam al-Laits bin Sa’ad, pendapat terakhir Imam Ahmad, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim.
(3) Boleh, ini pendapat Ibnu Hazm dan Ath-Thabari.

     ✍🏼 Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya mengatakan :

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ الْقُنُوتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يُقْنَتُ فِي الْفَجْرِ إِلَّا عِنْدَ نَازِلَةٍ تَنْزِلُ بِالْمُسْلِمِينَ فَإِذَا نَزَلَتْ نَازِلَةٌ فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَدْعُوَ لِجُيُوشِ الْمُسْلِمِينَ

“Para Ahli ilmu berbeda pendapat tentang qunut pada shalat fajar (Shubuh), sebagian Ahli ilmu dari shahabat Nabi dan lainnya berpendapat bahwa qunut ada pada shalat Shubuh, dan ini adalah pendapat Malik dan Asy Syafi’i. Sedangkan, Ahmad dan Ishaq berpendapat tidak ada qunut pada shalat Shubuh kecuali saat nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin. Jika turun musibah, maka bagi imam berdoa untuk para tentara kaum muslimin.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

     ✍🏼 Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah berkata :

اختلفوا في القنوت، فذهب مالك إلى أن القنوت في صلاة الصبح مستحب، وذهب الشافعي إلى أنه سنة وذهب أبو حنيفة إلى أنه لا يجوز القنوت في صلاة الصبح، وأن القنوت إنما موضعه الوتر وقال قوم: بيقنت في كل صلاة، وقال قوم: لا قنوت إلا في رمضان، وقال قوم: بل في النصف الاخير منه وقال قوم: بل في النصف الاول منه.

“Mereka berselisih tentang qunut, Malik berpendapat bahwa qunut dalam shalat Shubuh adalah mustahab (sunnah), dan Asy Syafi’i juga mengatakan sunnah, dan Abu Hanifah berpendapat tidak boleh qunut dalam shalat Shubuh, sesungguhnya qunut itu adanya pada shalat witir. Ada kelompok yang berkata: berqunut pada setiap shalat. Kaum lain berkata: tidak ada qunut kecuali pada bulan Ramadhan. Kaum lain berkata: Adanya pada setelah setengah bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan: bahkan pada setengah awal Ramadhan.” (Imam Ibnu Rusyd, lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz. 1, Hal. 107-108.)

     ✍🏼 Juga diterangkan di dalam kitab Al Mausu’ah sebagai berikut:

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ . قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَنُدِبَ قُنُوتٌ سِرًّا بِصُبْحٍ فَقَطْ دُونَ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ قَبْل الرُّكُوعِ ، عَقِبَ الْقِرَاءَةِ بِلاَ تَكْبِيرٍ قَبْلَهُ .

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَال ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ، يَعْنِي بَعْدَ مَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَلَمْ يُقَيِّدُوهُ بِالنَّازِلَةِ .

وَقَال الْحَنَفِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ قُنُوتَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ إِلاَّ فِي النَّوَازِل وَذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : – أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُو لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَشْرُوعِيَّةَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ مَنْسُوخَةٌ فِي غَيْرِ النَّازِلَةِ

“Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) dan Asy Syafi’iyah (pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat bahwa doa qunut pada shalat Shubuh adalah disyariatkan. Berkata Malikiyah: Disunnahkan berqunut secara sirr (pelan) pada shalat Shubuh saja, bukan pada shalat lainnya. Dilakukan sebelum ruku setelah membaca surat tanpa takbir dulu.

Kalangan Asy Syafi’iyah mengatakan: qunut disunnahkan ketika i’tidal kedua shalat Shubuh, yakni setelah mengangkat kepala pada rakaat kedua, mereka tidak hanya mengkhususkan qunut nazilah saja.

Kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) dan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad bin Hambal) mengatakan: Tidak ada qunut dalam shalat Shubuh kecuali qunut nazilah. Hal ini karena telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi  berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, tsumma tarakahu (kemudian beliau meninggalkan doa tersebut).” (HR. Muslim dan An Nasa’i). Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah tidak berqunut pada shalat Shubuh, kecuali karena mendoakan atas sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban). Artinya, syariat berdoa qunut pada shalat Shubuh telah mansukh (dihapus), selain qunut nazilah.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/321-322. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

    Kelima : Adanya Khilafiyah Yang Mu'tabar Terjadi Karena Perbedaan Memahami Dalil Dan Keshahihannya, Serta Bukan Karena Mengikuti Hawa Nafsu

     ✍🏼 Pendapat pertama bahwa merutinkan membaca qunut Shubuh adalah mustahab (sunnah). Menurut pendapat ulama Syafiiyah terkait hadits ini,

فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا.

“Adapun pada shalat Shubuh, beliau selalu berqunut hingga meninggal dunia.” Hadits ini disahihkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 3:504. Ulama yang menganjurkan qunut Shubuh terus menerus adalah Imam Malik dan Imam Syafii. Imam Nawawi bahkan mengatakan bahwa inilah pendapat kebanyakan ulama salaf. Pihak yang pro qunut Shubuh juga memiliki dalil dalam hal ini. Bahkan dalil-dalil lengkap dari kalangan Shahabat dan Tabi’in telah disebutkan dalam Kitab Ikmal At-Tadris, 1:178-181.

     ✍🏼 Adapun pendapat yang paling banyak dikuatkan oleh kebanyakan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini adalah pendapat kedua. Bahwa tidak disyariatkan merutinkan doa qunut di shalat Shubuh. Di antara dalilnya adalah hadits Abu Malik al-Asyja-‘i, ia berkata:

عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi namun ia tidak membaca qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah‘” (HR. Nasa’i, Ibnu Majah, at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadis ini hasan shahih”). Dalam riwayat lain disebutkan :

عَنْ أَبِيْ مَالِكٍ سَعِيْدٍ بْنِ طَارِقٍ اْلاَشْجَعِيِّ قَالَ قُلْتُ ِلأَبِيْ: يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ هاَهُنَا بِالْكُوْفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِيْنَ فَكَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْفَجْرِ؟ فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ. رواه الترمدى رقم: (402) وأحمد (3/472، 6/394) وابن ماجه رقم: (1241) والنسائي (2/204) والطحاوي (1/146) والطياليسي رقم: (1328) والبيهقي (2/213) والسياق لابن ماجه وقال الترميذي: حديث حسن صحيح وانظر صحيح سنن النسائي رقم: (1035).

Dari Abi Malik al-Asyja’i, ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah , di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan di belakang ‘Ali di daerah Qufah sini kira-kira selama lima tahun, apakah qunut Shubuh terus-menerus?” Ia jawab: “Wahai anakku qunut Shubuh itu muhdats."
Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi (no. 402), Ahmad (III/472, VI/394), Ibnu Majah (no. 1241), an-Nasa-i (II/204), ath-Thahawi (I/146), ath-Thayalisi (no. 1328) dan Baihaqi (II/213), dan ini adalah lafazh hadits Imam Ibnu Majah, dan Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lihat pula kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/233 no. 1035)

     Juga atsar Ibnu Umar dari Abul Sya’sya’, ia berkata:

سألت ابن عمر عن القنوت في الفجر فقال : ما شعرت ان احدا يفعله

“Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang qunut di waktu Shubuh. Ibnu Umar menjawab: Saya rasa tidak ada seorang pun (Shahabat) yang melakukannya” (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 4954, dishahihkan Syaikh Musthafa al-Adawi dalam Mafatihul Fiqhi fid Din hal. 106).

     ✍🏼 Sisi lain dari hadits di atas bisa diambil kesimpulan bahwa perselisihan tentang qunut sudah dimulai sejak masa para Shahabat Ridwanullah alaihim ajmain

Keenam : Mengingkari Orang Lain Yang Mengambil Pendapat Berbeda Dalam Masalah Khilafiyah Perlu Dirinci

     Dalam perkara mengingkari orang lain yang mengambil pendapat berbeda dalam masalah ini perlu dirinci :

✍🏼 Jika berupa pengingkaran dengan tangan, maka tidak boleh. Misalnya: (1) Mencegah orang supaya tidak membaca qunut Shubuh, (2) Memaksa orang supaya qunut Shubuh, (3) Mengganti imam yang tidak qunut Shubuh ataupun (4) Mengganti imam yang qunut Shubuh. 

✍🏼 Jika berupa vonis sesat atau menyimpang kepada orang lain yang mengambil pendapat berbeda dalam masalah ini, atau pemaksaan pendapat, maka ini juga tidak boleh. Karena ini masalah ijtihadiyyah dan masalah khafifah (longgar), sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Baz.

✍🏼 Jika pengingkarannya berupa bantahan ilmiah, kritik ilmiah atau nasihat untuk meninggalkan qunut Shubuh karena bid’ah, maka ini dibolehkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

إن مثل هذه المسائل الاجتهادية لا تنكر باليد، وليس لأحد أن يلزم الناس باتباعه فيها، ولكن يتكلم فيها بالحجج العلمية، فمن تبين له صحة أحد القولين: تبعه، ومن قلد أهل القول الآخر فلا إنكار عليه

“Sesungguhnya masalah yang semisal ini, yaitu masalah ijtihadiyyah, tidak boleh diingkari dengan tangan. Dan tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya. Namun boleh berdiskusi dengan membawa hujjah (dalil) yang ilmiah. Siapa yang jelas keshahihan dalilnya, maka kita ikuti dia. Namun siapa yang tetap mengikuti pendapat yang lain, maka tidak kita ingkari dia (dengan tangan).” (lihat Majmu’ al Fatawa, 30/80).

Ketujuh : Sikap Makmum Apabila Imam Membaca Qunut Shubuh Terdapat Khilafiyah Yang Mu'tabar

     Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama.

✍🏼 Pendapat pertama, yaitu mengikuti imam membaca doa qunut, mengingat perintah untuk mengikuti imam. Sebagaimana pendapat Abu Yusuf Al Hanafi yang disebutkan dalam Fathul Qadiir (367/2):

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُتَابِعُهُ ) لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِإِمَامِهِ ، وَالْقُنُوتُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ

“Abu Yusuf rahimahullah berpendapat ikut membaca qunut. Karena hal tersebut termasuk kewajiban mengikuti imam. Sedangkan membaca qunut adalah ijtihad imam”

     Dalam Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’ (45/4) kitab fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

وانظروا إلى الأئمة الذين يعرفون مقدار الاتفاق، فقد كان الإمام أحمدُ يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض

“Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan. Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin..”

✍🏼 Pendapat kedua, diam dan tidak mengikuti imam ketika membaca doa qunut, karena tidak harus mengikuti imam dalam kebid’ahan. Dalam Fathul Qadiir (367/2), kitab Fiqih Madzhab Hanafi, dijelaskan:

فَإِنْ قَنَتَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَسْكُتُ مَنْ خَلْفَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ رَحِمَهُمَا اللَّهُ .

“Jika imam membaca doa qunut dalam shalat Shubuh, sikap makmum adalah diam. Ini menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad rahimahumallah

     Dalam Al Mubdi’ (238/2), kitab fiqih madzhab Hambali dikatakan:

وذكر أبو الحسين رواية فيمن صلى خلف من يقنت في الفجر أنه يسكت ولا يتابعه

“Abul Husain (Ishaq bin Rahawaih) membawakan riwayat tentang shahabat yang shalat dibelakang imam yang membaca qunut pada shalat Shubuh dan ia diam”

     Makmum tidak mengikuti imam, karena qunut Shubuh terus-menerus tersebut tidak disyari’atkan di dalam shalat, sehingga makmum tidak perlu mengikuti imamnya. Hal itu sebagaimana ketika para Sahabat mengikuti perbuatan Rasulullah dalam melepaskan sandal ketika shalat, kemudian beliau menanyakan perbuatan para Sahabatnya yang mengikutinya itu, sebagai isyarat bahwa hal itu tidak perlu diikuti.

     Namun perkara ini adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah, anda dapat memilih pendapat yang menurut anda lebih mendekati kepada dalil-dalil yang ada. Wallahu Ta’ala A’lam, 


Kedelapan : Kalam Para Ulama Ahlus Sunnah Dalam Menyikapi Imam Yang Membaca Qunut Shubuh

     Para ulama Ahlus Sunnah mengatakan masalah merutinkan doa qunut di dalam shalat subuh adalah perkara longgar. Artinya tidak sampai membuat orang bisa divonis sesat atau menyimpang jika memilih pendapat yang berbeda. 

    ✍🏼 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ولهذا ينبغي للمأموم أن يتبع إمامه فيما يسوغ فيه الاجتهاد فإذا قنت قنت معه وإن ترك القنوت لم يقنت فإن النبي صلى الله عليه و سلم قال :[ إنما جعل الإمام ليؤتم به ] وقال : [ لا تختلفوا على أئمتكم ] وثبت عنه في الصحيح أنه قال : [ يصلون لكم فإن أصابوا فلكم ولهم وإن أخطأوا فلكم وعليهم ] ألا ترى أن الإمام لو قرأ في الأخيرتين بسورة مع الفاتحة وطولهما على الأوليين : لوجبت متابعته في ذلك فأما مسابقة الإمام فإنها لا تجوز.

فإذا قنت لم يكن للمأموم أن يسابقه : فلا بد من متابعته ولهذا كان عبد الله بن مسعود قد أنكر على عثمان التربيع بمنى ثم إنه صلى خلفه أربعا فقيل له : في ذلك ؟ ! فقال : الخلاف شر وكذلك أنس بن مالك لما سأله رجل عن وقت الرمي فأخبره ثم قال : إفعل كما يفعل إمامك والله أعلم

“Oleh karena itulah sudah sepatutnya bagi makmum untuk mengikuti imamnya perkara  yang diperkenankan untuk berijtihad. Maka jika imam melakukan qunut, hendaknya dia juga melakukan qunut bersama imam. Dan jika imam tidak melakukan qunuth maka janganlah melakukan qunuth. Dikarenakan Nabi shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “”Imam itu dijadikan untuk diikuti.”” Dan beliau bersabda: “”Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian.”” Dan juga telah shahih dari beliau Shallallahu alaihi Wasallam  bahwa beliau  bersabda: “”Mereka (para imam) shalat untuk kalian, maka jika mereka benar, maka (pahala itu) untuk kalian dan juga untuk mereka, dan jika mereka salah, maka (pahala) bagi kalian dan (dosa) atas mereka.””
bukankah kalian tahu bahwa seandainya imam membaca surat pada pada dua rakaat terakhir setelah bacaan al-Fatihah dan memanjangkannya lebih dari dua rakaat pertama maka wajib mengikutinya dalam hal yang demikian?!

Adapun mendahului imam, maka itu tidak diperbolehkan. Maka jika imam melakukan Qunut, tidak boleh bagi makmum untuk mendahuluinya, maka dia harus mengikutinya. Oleh karena itulah Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu anhu  pernah mengingkari ‘Utsman (yang melakukan shalat) empat rakaat (dzuhur dan ashar masing-masing empat rakaat,) di Mina, (namun) kemudian dia tetap shalat dibelakang utsman empat rakaat. Ditanyakan kepadanya tentang hal tersebut, dia menjawab: “”Perselisihan itu buruk.”” Demikian pula Anas bin Malik Radiyallahu anhu tatkala ditanya oleh seorang laki-laki tentang waktu melempar (jumrah), maka dia mengabarkan kepadanya. Kemudian Anas Radiyallahu anhu  berkata: “”Lakukankanlah sebagaimana yang diperbuat oleh imam (pemimpinmu)." (lihat al-Fatâwa Al-Kubrâ (2/245).

وسئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : عندنا إمام يقنت في صلاة الفجر بصفة دائمة فهل نتابعه ؟ وهل نؤمن على دعائه ؟
فأجاب : " من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى " اهـ .
مجموع فتاوى ابن عثيمين (14/177) .

     ✍🏼 Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : Kami mempunyai seorang imam yang membaca qunut pada shalat Shubuh secara terus-menerus, maka haruskah kami mengikutinya?  Apakah kita mengucapkan amin atas doanya?
Maka dijawab :“Barangsiapa sholat di belakang imam yang qunut di solat subuh, hendaklah ia mengikuti imamnya dalam qunut, mengaminkan doanya dengan kebaikan, dan Imam Ahmad bin Hanbal telah menegaskan perkara ini”.
(lihat Majmu' Fatawa ibnu Utsaimin (14/177)

    Kesimpulan

✍🏼 Kaidah-kaidah di atas berlaku untuk semua bentuk masalah khilafiyah ijtihadiyah atau khilafiyah yang mu'tabar. Tidak berlaku untuk semua masalah khilafiyah. Karena tidak semua masalah khilafiyah itu ditoleransi. 

✍🏼 Jika terjadi perselisihan wajib berhukum kepada dalil shahih dan dipahami sesuai pemahaman Salafush Sholih.

✍🏼 Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai masalah qunut Shubuh beliau menjawab yang rajih adalah tidak bolehnya merutinkan qunut pada shalat Shubuh kecuali ketika terjadi nazilah. Kemudian beliau katakan :

هذا ليس تبديعاً للشافعي ولكن من باب تحري الأرجح من الأقوال، من باب تحري الأرجح لأن من قال: إنه بدعة احتج بحديث طارق بن أشيم الأشجعي ومن زعم أنه سنة ومستحب احتج بأحاديث أخرى فيها ضعف والأخذ بالشيء الثابت في الصحيح أولى وأحق عند أهل العلم مع عدم التشنيع على من قنت فإن هذه المسألة مسألة خفيفة لا ينبغي فيها التشنيع والنزاع وإنما يتحرى فيها الإنسان ما هو الأفضل والأقرب إلى السنة

“Ini bukan berarti kita tabdi' (memvonis ahlul bid’ah) kepada Imam Asy-Syafi’i, namun ini dalam rangka memilih pendapat yang lebih rajih dari pendapat-pendapat yang ada. Karena ulama yang berpendapat bahwa qunut Shubuh secara rutin itu bid’ah berhujjah dengan hadits Thariq bin Asyim al-Asyja’i. Dan yang berpendapat bahwa perbuatan tersebut mustahab (sunnah) berhujjah dengan hadits-hadits yang lain yang terdapat kelemahan. Dan mengambil hadits yang shahih itu lebih utama dan lebih tepat bagi para ulama. Namun tanpa disertai celaan kepada orang yang berpendapat sunnahnya qunut Shubuh. Karena masalah ini adalah masalah yang longgar, tidak semestinya ada saling mencela dan saling cekcok. Ini adalah masalah yang seseorang memilih pendapat yang menurutnya lebih mendekati Sunnah Nabi.” (lihat Fatawa Nurun ‘alad Darbi, syaikh bin Baz).

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makar Jahat Akun Dusta Ummu Andini Haidar Rabu, 10-03-1447 H/03-09-2025 M

  Makar Jahat Akun Dusta Ummu Andini Haidar  Rabu, 10-03-1447 H/03-09-2025 M Maka kita katakan : 🔸 Itu termasuk perbuatan merubah dan mend...