Jumat, 21 Juni 2024

Pemilik Akun Ummu Andini Haidar Mencela Imam Ahlus Sunnah Dan Musuh Ahlus Sunnah


 

Pemilik Akun Ummu Andini Haidar Mencela Imam Ahlus Sunnah Dan Musuh Ahlus Sunnah

✍🏼 Pemilik akun Ummu Andini Haidar sebagaimana Syi'ah Rofidhoh punya makar merusak ajaran madzhab/manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah diantaranya :
1. Dia menyamakan orang yang sujud menghadap Ka'bah itu seperti para penyembah kuburan (kuburiyyun) sehingga dia katakan "Ka'bahiyyun".
2. Dia mengatakan sholat Tarawih berjama'ah di masjid lebih dari 3 malam adalah sesat.
3.  Dia mengatakan zakat fitrah (=zakat fithri) itu wajib dengan kurma atau gandum. Zakat dengan 1 sho' makanan selain kurma dan gandum adalah bid'ah sesat.
4.  Dia mewajibkan sholat pakai sandal. Sholat dengan melepas sandal termasuk bid'ah sesat.
5.  Dia mengatakan "MAYORITAS = SESAT" sehingga sholat Idul Fithri bersama pemerintah adalah kesesatan.
6.  Dia mengatakan sholat Dhuha adalah bid'ah sesat.
7.  Dia mengatakan bahwa berbuka puasa dengan kurma dan air itu Sunnah yang wajib dikerjakan. Siapa yang berbuka dengan selain kurma dan air maka berdosa.
Dan masih banyak ajaran sesat yang didakwahkan.

✍🏼 Bukti dia mencela imam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.. yaitu imam Asy Syafi'i seorang mujaddid di penghujung abad ke-2 H :



Kamis, 13 Juni 2024

Madzhab Ahlus Sunnah Dalam Menyikapi Perkara Khilafiyah Terkait Qunut Shubuh













 

Madzhab Ahlus Sunnah Dalam Menyikapi Perkara Khilafiyah Terkait Qunut Shubuh
  https://kesesatanfahamummuandini.blogspot.com/2024/06/madzhab-ahlus-sunnah-dalam-menyikapi.html?m=1
     

     Dalam hal ini perlu dipahami beberapa poin permasalahan, diantaranya :

Pertama : Masalah Qunut Shubuh Yang Diperselisihkan Yaitu Merutinkan Membaca Qunut Khusus Dalam Shalat Shubuh

     Adapun membaca doa qunut ketika terjadi nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin, maka perkara ini disyariatkan di semua shalat yang 5 waktu dan tidak hanya shalat subuh. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhu,

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ ، فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ ، يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah berdoa qunut selama sebulan dan dilakukan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan shalat Subuh pada setiap rakaat terakhir setelah membaca sami’allahu liman hamidah beliau mendoakan kehancuran bagi Bani Sulaim, Ri’lin, Dzakwan, dan Ushayyah. Kemudian orang-orang di belakangnya mengamini” (HR. Abu Daud no.1443, dihasankan al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Kedua : Terdapat Ijma' Membaca Qunut Shubuh Hukumnya Tidak Wajib

     Para ulama sepakat bahwa membaca qunut di shalat Shubuh tidak wajib. Yang diperselisihkan adalah apakah dianjurkan atau tidak?

Ketiga : Tidak Membaca Ataupun Membaca Qunut Shubuh Tidak Mempengaruhi Keabsahan Shalat Shubuh

     Karena bagi yang berpendapat merutinkan qunut Shubuh, itu sekedar mustahab (dianjurkan) atau boleh. Bukan  termasuk rukun atau wajib shalat. Dan tidak ada ulama yang membid’ahkan qunut Shubuh yang mengatakan tidak sahnya shalat shubuh jika ada qunut Shubuh. Karena amalan ini tidak merusak rukun dan syarat shalat.

    Para ulama sepakat bahwa jika seseorang melakukan kedua-duanya maka ibadahnya sah dan tidak ada dosa padanya, namun mereka berbeda pendapat tentang mana yang lebih baik dan apa yang biasa dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Keempat : Qunut Shubuh Termasuk Khilafiyyah Yang Mu'tabar Sejak Zaman Salafush Sholih

     Tidak bisa dipungkiri bahwa masalah merutinkan doa qunut di dalam shalat Shubuh adalah masalah khilafiyah ijtihadiyyah. Ada 3 pendapat di antara ulama :
(1) Mustahab (dianjurkan), ini pendapat Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad.
(2) Bid’ah, ini pendapat Hanafiyah, Imam al-Laits bin Sa’ad, pendapat terakhir Imam Ahmad, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim.
(3) Boleh, ini pendapat Ibnu Hazm dan Ath-Thabari.

     ✍🏼 Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya mengatakan :

وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الْقُنُوتِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ الْقُنُوتَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ و قَالَ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ لَا يُقْنَتُ فِي الْفَجْرِ إِلَّا عِنْدَ نَازِلَةٍ تَنْزِلُ بِالْمُسْلِمِينَ فَإِذَا نَزَلَتْ نَازِلَةٌ فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَدْعُوَ لِجُيُوشِ الْمُسْلِمِينَ

“Para Ahli ilmu berbeda pendapat tentang qunut pada shalat fajar (Shubuh), sebagian Ahli ilmu dari shahabat Nabi dan lainnya berpendapat bahwa qunut ada pada shalat Shubuh, dan ini adalah pendapat Malik dan Asy Syafi’i. Sedangkan, Ahmad dan Ishaq berpendapat tidak ada qunut pada shalat Shubuh kecuali saat nazilah (musibah) yang menimpa kaum muslimin. Jika turun musibah, maka bagi imam berdoa untuk para tentara kaum muslimin.” (Lihat Sunan At Tirmidzi, keterangan hadits No. 401)

     ✍🏼 Imam Ibnu Rusyd Al Maliki Rahimahullah berkata :

اختلفوا في القنوت، فذهب مالك إلى أن القنوت في صلاة الصبح مستحب، وذهب الشافعي إلى أنه سنة وذهب أبو حنيفة إلى أنه لا يجوز القنوت في صلاة الصبح، وأن القنوت إنما موضعه الوتر وقال قوم: بيقنت في كل صلاة، وقال قوم: لا قنوت إلا في رمضان، وقال قوم: بل في النصف الاخير منه وقال قوم: بل في النصف الاول منه.

“Mereka berselisih tentang qunut, Malik berpendapat bahwa qunut dalam shalat Shubuh adalah mustahab (sunnah), dan Asy Syafi’i juga mengatakan sunnah, dan Abu Hanifah berpendapat tidak boleh qunut dalam shalat Shubuh, sesungguhnya qunut itu adanya pada shalat witir. Ada kelompok yang berkata: berqunut pada setiap shalat. Kaum lain berkata: tidak ada qunut kecuali pada bulan Ramadhan. Kaum lain berkata: Adanya pada setelah setengah bulan Ramadhan. Ada juga yang mengatakan: bahkan pada setengah awal Ramadhan.” (Imam Ibnu Rusyd, lihat Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Juz. 1, Hal. 107-108.)

     ✍🏼 Juga diterangkan di dalam kitab Al Mausu’ah sebagai berikut:

ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى مَشْرُوعِيَّةِ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ . قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَنُدِبَ قُنُوتٌ سِرًّا بِصُبْحٍ فَقَطْ دُونَ سَائِرِ الصَّلَوَاتِ قَبْل الرُّكُوعِ ، عَقِبَ الْقِرَاءَةِ بِلاَ تَكْبِيرٍ قَبْلَهُ .

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ : يُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَال ثَانِيَةِ الصُّبْحِ ، يَعْنِي بَعْدَ مَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ ، وَلَمْ يُقَيِّدُوهُ بِالنَّازِلَةِ .

وَقَال الْحَنَفِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ : لاَ قُنُوتَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ إِلاَّ فِي النَّوَازِل وَذَلِكَ لِمَا رَوَاهُ ابْنُ مَسْعُودٍ وَأَبُو هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : – أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ إِلاَّ أَنْ يَدْعُو لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ وَمَعْنَاهُ أَنَّ مَشْرُوعِيَّةَ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ مَنْسُوخَةٌ فِي غَيْرِ النَّازِلَةِ

“Kalangan Malikiyah (pengikut Imam Malik) dan Asy Syafi’iyah (pengikut Imam Asy Syafi’i) berpendapat bahwa doa qunut pada shalat Shubuh adalah disyariatkan. Berkata Malikiyah: Disunnahkan berqunut secara sirr (pelan) pada shalat Shubuh saja, bukan pada shalat lainnya. Dilakukan sebelum ruku setelah membaca surat tanpa takbir dulu.

Kalangan Asy Syafi’iyah mengatakan: qunut disunnahkan ketika i’tidal kedua shalat Shubuh, yakni setelah mengangkat kepala pada rakaat kedua, mereka tidak hanya mengkhususkan qunut nazilah saja.

Kalangan Hanafiyah (pengikut Imam Abu Hanifah) dan Hanabilah (pengikut Imam Ahmad bin Hambal) mengatakan: Tidak ada qunut dalam shalat Shubuh kecuali qunut nazilah. Hal ini karena telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi  berqunut selama satu bulan, mendoakan qabilah di antara qabilah Arab, tsumma tarakahu (kemudian beliau meninggalkan doa tersebut).” (HR. Muslim dan An Nasa’i). Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu: “Bahwa Rasulullah tidak berqunut pada shalat Shubuh, kecuali karena mendoakan atas sebuah kaum atau untuk sebuah kaum.” (HR. Ibnu Hibban). Artinya, syariat berdoa qunut pada shalat Shubuh telah mansukh (dihapus), selain qunut nazilah.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/321-322. Wizarah Al Awqaf Asy Syu’un Al Islamiyah)

    Kelima : Adanya Khilafiyah Yang Mu'tabar Terjadi Karena Perbedaan Memahami Dalil Dan Keshahihannya, Serta Bukan Karena Mengikuti Hawa Nafsu

     ✍🏼 Pendapat pertama bahwa merutinkan membaca qunut Shubuh adalah mustahab (sunnah). Menurut pendapat ulama Syafiiyah terkait hadits ini,

فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا.

“Adapun pada shalat Shubuh, beliau selalu berqunut hingga meninggal dunia.” Hadits ini disahihkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 3:504. Ulama yang menganjurkan qunut Shubuh terus menerus adalah Imam Malik dan Imam Syafii. Imam Nawawi bahkan mengatakan bahwa inilah pendapat kebanyakan ulama salaf. Pihak yang pro qunut Shubuh juga memiliki dalil dalam hal ini. Bahkan dalil-dalil lengkap dari kalangan Shahabat dan Tabi’in telah disebutkan dalam Kitab Ikmal At-Tadris, 1:178-181.

     ✍🏼 Adapun pendapat yang paling banyak dikuatkan oleh kebanyakan ulama Ahlus Sunnah di zaman ini adalah pendapat kedua. Bahwa tidak disyariatkan merutinkan doa qunut di shalat Shubuh. Di antara dalilnya adalah hadits Abu Malik al-Asyja-‘i, ia berkata:

عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi namun ia tidak membaca qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah‘” (HR. Nasa’i, Ibnu Majah, at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: “Hadis ini hasan shahih”). Dalam riwayat lain disebutkan :

عَنْ أَبِيْ مَالِكٍ سَعِيْدٍ بْنِ طَارِقٍ اْلاَشْجَعِيِّ قَالَ قُلْتُ ِلأَبِيْ: يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ هاَهُنَا بِالْكُوْفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِيْنَ فَكَانُوْا يَقْنُتُوْنَ فِي الْفَجْرِ؟ فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ. رواه الترمدى رقم: (402) وأحمد (3/472، 6/394) وابن ماجه رقم: (1241) والنسائي (2/204) والطحاوي (1/146) والطياليسي رقم: (1328) والبيهقي (2/213) والسياق لابن ماجه وقال الترميذي: حديث حسن صحيح وانظر صحيح سنن النسائي رقم: (1035).

Dari Abi Malik al-Asyja’i, ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah , di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan di belakang ‘Ali di daerah Qufah sini kira-kira selama lima tahun, apakah qunut Shubuh terus-menerus?” Ia jawab: “Wahai anakku qunut Shubuh itu muhdats."
Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi (no. 402), Ahmad (III/472, VI/394), Ibnu Majah (no. 1241), an-Nasa-i (II/204), ath-Thahawi (I/146), ath-Thayalisi (no. 1328) dan Baihaqi (II/213), dan ini adalah lafazh hadits Imam Ibnu Majah, dan Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lihat pula kitab Shahih Sunan an-Nasa-i (I/233 no. 1035)

     Juga atsar Ibnu Umar dari Abul Sya’sya’, ia berkata:

سألت ابن عمر عن القنوت في الفجر فقال : ما شعرت ان احدا يفعله

“Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang qunut di waktu Shubuh. Ibnu Umar menjawab: Saya rasa tidak ada seorang pun (Shahabat) yang melakukannya” (HR. Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 4954, dishahihkan Syaikh Musthafa al-Adawi dalam Mafatihul Fiqhi fid Din hal. 106).

     ✍🏼 Sisi lain dari hadits di atas bisa diambil kesimpulan bahwa perselisihan tentang qunut sudah dimulai sejak masa para Shahabat Ridwanullah alaihim ajmain

Keenam : Mengingkari Orang Lain Yang Mengambil Pendapat Berbeda Dalam Masalah Khilafiyah Perlu Dirinci

     Dalam perkara mengingkari orang lain yang mengambil pendapat berbeda dalam masalah ini perlu dirinci :

✍🏼 Jika berupa pengingkaran dengan tangan, maka tidak boleh. Misalnya: (1) Mencegah orang supaya tidak membaca qunut Shubuh, (2) Memaksa orang supaya qunut Shubuh, (3) Mengganti imam yang tidak qunut Shubuh ataupun (4) Mengganti imam yang qunut Shubuh. 

✍🏼 Jika berupa vonis sesat atau menyimpang kepada orang lain yang mengambil pendapat berbeda dalam masalah ini, atau pemaksaan pendapat, maka ini juga tidak boleh. Karena ini masalah ijtihadiyyah dan masalah khafifah (longgar), sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Baz.

✍🏼 Jika pengingkarannya berupa bantahan ilmiah, kritik ilmiah atau nasihat untuk meninggalkan qunut Shubuh karena bid’ah, maka ini dibolehkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

إن مثل هذه المسائل الاجتهادية لا تنكر باليد، وليس لأحد أن يلزم الناس باتباعه فيها، ولكن يتكلم فيها بالحجج العلمية، فمن تبين له صحة أحد القولين: تبعه، ومن قلد أهل القول الآخر فلا إنكار عليه

“Sesungguhnya masalah yang semisal ini, yaitu masalah ijtihadiyyah, tidak boleh diingkari dengan tangan. Dan tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya. Namun boleh berdiskusi dengan membawa hujjah (dalil) yang ilmiah. Siapa yang jelas keshahihan dalilnya, maka kita ikuti dia. Namun siapa yang tetap mengikuti pendapat yang lain, maka tidak kita ingkari dia (dengan tangan).” (lihat Majmu’ al Fatawa, 30/80).

Ketujuh : Sikap Makmum Apabila Imam Membaca Qunut Shubuh Terdapat Khilafiyah Yang Mu'tabar

     Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama.

✍🏼 Pendapat pertama, yaitu mengikuti imam membaca doa qunut, mengingat perintah untuk mengikuti imam. Sebagaimana pendapat Abu Yusuf Al Hanafi yang disebutkan dalam Fathul Qadiir (367/2):

وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُتَابِعُهُ ) لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِإِمَامِهِ ، وَالْقُنُوتُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ

“Abu Yusuf rahimahullah berpendapat ikut membaca qunut. Karena hal tersebut termasuk kewajiban mengikuti imam. Sedangkan membaca qunut adalah ijtihad imam”

     Dalam Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’ (45/4) kitab fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

وانظروا إلى الأئمة الذين يعرفون مقدار الاتفاق، فقد كان الإمام أحمدُ يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض

“Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan. Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’. Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan kebencian diantara kaum muslimin..”

✍🏼 Pendapat kedua, diam dan tidak mengikuti imam ketika membaca doa qunut, karena tidak harus mengikuti imam dalam kebid’ahan. Dalam Fathul Qadiir (367/2), kitab Fiqih Madzhab Hanafi, dijelaskan:

فَإِنْ قَنَتَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَسْكُتُ مَنْ خَلْفَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ رَحِمَهُمَا اللَّهُ .

“Jika imam membaca doa qunut dalam shalat Shubuh, sikap makmum adalah diam. Ini menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad rahimahumallah

     Dalam Al Mubdi’ (238/2), kitab fiqih madzhab Hambali dikatakan:

وذكر أبو الحسين رواية فيمن صلى خلف من يقنت في الفجر أنه يسكت ولا يتابعه

“Abul Husain (Ishaq bin Rahawaih) membawakan riwayat tentang shahabat yang shalat dibelakang imam yang membaca qunut pada shalat Shubuh dan ia diam”

     Makmum tidak mengikuti imam, karena qunut Shubuh terus-menerus tersebut tidak disyari’atkan di dalam shalat, sehingga makmum tidak perlu mengikuti imamnya. Hal itu sebagaimana ketika para Sahabat mengikuti perbuatan Rasulullah dalam melepaskan sandal ketika shalat, kemudian beliau menanyakan perbuatan para Sahabatnya yang mengikutinya itu, sebagai isyarat bahwa hal itu tidak perlu diikuti.

     Namun perkara ini adalah perkara khilafiyah ijtihadiyah, anda dapat memilih pendapat yang menurut anda lebih mendekati kepada dalil-dalil yang ada. Wallahu Ta’ala A’lam, 


Kedelapan : Kalam Para Ulama Ahlus Sunnah Dalam Menyikapi Imam Yang Membaca Qunut Shubuh

     Para ulama Ahlus Sunnah mengatakan masalah merutinkan doa qunut di dalam shalat subuh adalah perkara longgar. Artinya tidak sampai membuat orang bisa divonis sesat atau menyimpang jika memilih pendapat yang berbeda. 

    ✍🏼 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ولهذا ينبغي للمأموم أن يتبع إمامه فيما يسوغ فيه الاجتهاد فإذا قنت قنت معه وإن ترك القنوت لم يقنت فإن النبي صلى الله عليه و سلم قال :[ إنما جعل الإمام ليؤتم به ] وقال : [ لا تختلفوا على أئمتكم ] وثبت عنه في الصحيح أنه قال : [ يصلون لكم فإن أصابوا فلكم ولهم وإن أخطأوا فلكم وعليهم ] ألا ترى أن الإمام لو قرأ في الأخيرتين بسورة مع الفاتحة وطولهما على الأوليين : لوجبت متابعته في ذلك فأما مسابقة الإمام فإنها لا تجوز.

فإذا قنت لم يكن للمأموم أن يسابقه : فلا بد من متابعته ولهذا كان عبد الله بن مسعود قد أنكر على عثمان التربيع بمنى ثم إنه صلى خلفه أربعا فقيل له : في ذلك ؟ ! فقال : الخلاف شر وكذلك أنس بن مالك لما سأله رجل عن وقت الرمي فأخبره ثم قال : إفعل كما يفعل إمامك والله أعلم

“Oleh karena itulah sudah sepatutnya bagi makmum untuk mengikuti imamnya perkara  yang diperkenankan untuk berijtihad. Maka jika imam melakukan qunut, hendaknya dia juga melakukan qunut bersama imam. Dan jika imam tidak melakukan qunuth maka janganlah melakukan qunuth. Dikarenakan Nabi shallallahu alaihi Wasallam bersabda: “”Imam itu dijadikan untuk diikuti.”” Dan beliau bersabda: “”Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian.”” Dan juga telah shahih dari beliau Shallallahu alaihi Wasallam  bahwa beliau  bersabda: “”Mereka (para imam) shalat untuk kalian, maka jika mereka benar, maka (pahala itu) untuk kalian dan juga untuk mereka, dan jika mereka salah, maka (pahala) bagi kalian dan (dosa) atas mereka.””
bukankah kalian tahu bahwa seandainya imam membaca surat pada pada dua rakaat terakhir setelah bacaan al-Fatihah dan memanjangkannya lebih dari dua rakaat pertama maka wajib mengikutinya dalam hal yang demikian?!

Adapun mendahului imam, maka itu tidak diperbolehkan. Maka jika imam melakukan Qunut, tidak boleh bagi makmum untuk mendahuluinya, maka dia harus mengikutinya. Oleh karena itulah Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu anhu  pernah mengingkari ‘Utsman (yang melakukan shalat) empat rakaat (dzuhur dan ashar masing-masing empat rakaat,) di Mina, (namun) kemudian dia tetap shalat dibelakang utsman empat rakaat. Ditanyakan kepadanya tentang hal tersebut, dia menjawab: “”Perselisihan itu buruk.”” Demikian pula Anas bin Malik Radiyallahu anhu tatkala ditanya oleh seorang laki-laki tentang waktu melempar (jumrah), maka dia mengabarkan kepadanya. Kemudian Anas Radiyallahu anhu  berkata: “”Lakukankanlah sebagaimana yang diperbuat oleh imam (pemimpinmu)." (lihat al-Fatâwa Al-Kubrâ (2/245).

وسئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : عندنا إمام يقنت في صلاة الفجر بصفة دائمة فهل نتابعه ؟ وهل نؤمن على دعائه ؟
فأجاب : " من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى " اهـ .
مجموع فتاوى ابن عثيمين (14/177) .

     ✍🏼 Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya : Kami mempunyai seorang imam yang membaca qunut pada shalat Shubuh secara terus-menerus, maka haruskah kami mengikutinya?  Apakah kita mengucapkan amin atas doanya?
Maka dijawab :“Barangsiapa sholat di belakang imam yang qunut di solat subuh, hendaklah ia mengikuti imamnya dalam qunut, mengaminkan doanya dengan kebaikan, dan Imam Ahmad bin Hanbal telah menegaskan perkara ini”.
(lihat Majmu' Fatawa ibnu Utsaimin (14/177)

    Kesimpulan

✍🏼 Kaidah-kaidah di atas berlaku untuk semua bentuk masalah khilafiyah ijtihadiyah atau khilafiyah yang mu'tabar. Tidak berlaku untuk semua masalah khilafiyah. Karena tidak semua masalah khilafiyah itu ditoleransi. 

✍🏼 Jika terjadi perselisihan wajib berhukum kepada dalil shahih dan dipahami sesuai pemahaman Salafush Sholih.

✍🏼 Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya mengenai masalah qunut Shubuh beliau menjawab yang rajih adalah tidak bolehnya merutinkan qunut pada shalat Shubuh kecuali ketika terjadi nazilah. Kemudian beliau katakan :

هذا ليس تبديعاً للشافعي ولكن من باب تحري الأرجح من الأقوال، من باب تحري الأرجح لأن من قال: إنه بدعة احتج بحديث طارق بن أشيم الأشجعي ومن زعم أنه سنة ومستحب احتج بأحاديث أخرى فيها ضعف والأخذ بالشيء الثابت في الصحيح أولى وأحق عند أهل العلم مع عدم التشنيع على من قنت فإن هذه المسألة مسألة خفيفة لا ينبغي فيها التشنيع والنزاع وإنما يتحرى فيها الإنسان ما هو الأفضل والأقرب إلى السنة

“Ini bukan berarti kita tabdi' (memvonis ahlul bid’ah) kepada Imam Asy-Syafi’i, namun ini dalam rangka memilih pendapat yang lebih rajih dari pendapat-pendapat yang ada. Karena ulama yang berpendapat bahwa qunut Shubuh secara rutin itu bid’ah berhujjah dengan hadits Thariq bin Asyim al-Asyja’i. Dan yang berpendapat bahwa perbuatan tersebut mustahab (sunnah) berhujjah dengan hadits-hadits yang lain yang terdapat kelemahan. Dan mengambil hadits yang shahih itu lebih utama dan lebih tepat bagi para ulama. Namun tanpa disertai celaan kepada orang yang berpendapat sunnahnya qunut Shubuh. Karena masalah ini adalah masalah yang longgar, tidak semestinya ada saling mencela dan saling cekcok. Ini adalah masalah yang seseorang memilih pendapat yang menurutnya lebih mendekati Sunnah Nabi.” (lihat Fatawa Nurun ‘alad Darbi, syaikh bin Baz).

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين

Selasa, 11 Juni 2024

Larangan Niyahah Dan Hukum Seputar Acara Al-Ma'tam Menurut Ahlus Sunnah













 


Larangan Niyahah Dan Hukum Seputar Acara Al-Ma'tam Menurut Ahlus Sunnah

https://kesesatanfahamummuandini.blogspot.com/2024/06/larangan-niyahah-dan-hukum-seputar.html?m=1

     Dari Abu Malik Al Asy’ari radhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullah bersabda,

« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) an-niyahah (meratapi mayit).” Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ “

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , Rasulullah bersabda: “Ada dua perkara pada manusia yang menyebabkan mereka kufur yaitu mencela nasab dan an-niyahah terhadap mayit.” (HR. Muslim no. 67)

Makna Niyahah

     Niyahah memiliki banyak makna. Di antara bentuk niyahah yaitu seseorang berteriak-teriak, menangis, merobek-robek baju, memukul-mukul wajah ketika ada orang yang meninggal sebagaimana Nabi ﷺ menyebutkan di dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُوْدَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوْبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi atau merobek-robek pakaian atau berteriak dengan teriakan Jahiliyah”. (Disepakati keshahihannya : Al-Bukhari dalam Al-Jana’iz 1294, Muslim dalam Al-Iman 103)

     Ada riwayat dari Jarir bin ‘Abdillah Al Bajaliy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا نَعُدُّ الاِجْتِمَاعَ إِلَى أهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

“Kami (para Shahabat Nabi) menganggap berkumpul di kediaman si mayit dan makanan yang dibuat (oleh keluarga mayit) setelah penguburannya termasuk dari niyahah (meratapi mayit).” (HR. Ahmad 2: 204. Hadits shahih).

جاء في "الموسوعة الفقهية الكويتية" (42/49) : " النِّيَاحَةُ لُغَةً اسْمٌ مِنَ النَّوْحِ ، مَصْدَرُ نَاحَ يَنُوحُ نَوْحًا وَنُوَاحًا وَنِيَاحًا . وَهِيَ : الْبُكَاءُ بِصَوْتٍ عَالٍ ، ...
وَفِي الاصْطِلاحِ اخْتَلَفَتْ عِبَارَاتُ الْفُقَهَاءِ فِي تَعْرِيفِ النِّيَاحَةِ :
فَعَرَّفَهَا الْحَنَفِيَّةُ بِأَنَّهَا : الْبُكَاءُ مَعَ نَدْبِ الْمَيِّتِ ؛ أَيْ تَعْدِيدِ مَحَاسِنِهِ . وَقِيلَ : هِيَ الْبُكَاءُ مَعَ صَوْتٍ.
وَحَاصِلُ كَلامِ عُلَمَاءِ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ النِّيَاحَةَ عِنْدَهُمْ هِيَ الْبُكَاءُ إِذَا اجْتَمَعَ مَعَهُ أَحَدُ أَمْرَيْنِ : صُرَاخٌ أَوْ كَلامٌ مَكْرُوهٌ .
وَعَرَّفَهَا أَكْثَرُ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ وَبَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ بِأَنَّهَا : رَفْعُ الصَّوْتِ بِالنَّدْبِ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ بُكَاءٍ ، وَقِيلَ : مَعَ الْبُكَاءِ .
وَعَرَّفَهَا الْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ بِأَنَّهَا رَفْعُ الصَّوْتِ بِالنَّدْبِ بِرَنَّةٍ أَوْ بِكَلامٍ مُسَجَّعٍ " انتهى .

     Di dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/49, disebutkan. "Niyahah (النِّيَاحَةُ) secara bahasa berasal dari kata النَّوْحِ. Mashdar dari نَاحَ يَنُوحُ نَوْحًا وَنُوَاحًا وَنِيَاحًا. Niyâhah adalah tangisan dengan suara keras. ... (Selanjutnya dijelaskan)

“Di dalam istilah (syari’at) ungkapan para fuqoha' tentang pengertian niyahah berbeda-beda :

Hanafiyyah menyatakan bahwa niyâhah adalah: tangisan yang disertai  menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit.  Ada juga yang mengatakan, niyahah adalah tangisan yang disertai  suara.

Kesimpulan pembiacaraan ulama Malikiyah bahwa niyahah adalah tangisan yang disertai  dengan satu dari dua perkara: teriakan atau perkataan yang tidak baik.

Kebanyakan ahli fiqih Syafi’iyyah dan sebagian ulama Malikiyah menyatakan bahwa niyahah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit, walaupun tanpa menangis. Ada yang mengatakan: disertai dengan menangis.

Hanabilah dan sebagian ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa niyâhah adalah mengeraskan suara dengan menghitung-hitung kebaikan-kebaikan mayit dengan jeritan atau perkataan bersajak”. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 42/49)

Perkara Yang Disyari'atkan Terhadap Keluarga Mayit

(1)  Ta’ziyah

     Ada beberapa hadist yang menunjukkan keutamaan berta’ziyah kepada orang-orang  yang mendapatkan musibah, diantaranya :

     ✍️ Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah bersabda :

مَنْ عَزَّى مُصَابًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

 “ Barangsiapa yang berta’ziyah kepada orang yang tertimpa musibah, maka baginya pahala seperti pahala yang didapat orang tersebut.”(HR.  Tirmidzi, 1073 dan Ibnu Majah, 1602, Berkata an-Nawawi di dalam al-Adzkar ( hlm.148 ) : hadist ini sanadnya lemah )

      ✍️ Hadits Amru bin Hazim dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah  bersabda :

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلَّا كَسَاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“ Tidaklah dari seorang mukmin berta’ziyah kepada saudaranya karena suatu musibah, kecuali Allah akan memakaikan kepadanya pada hari kiamat mahkota kehormatan. “ ( HR. Ibnu Majah, 1601 )

     ✍️ Hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu  bahwasanya Rasulullah  bersabda :

من عَزَّى أخاه المؤمن في مصيبته كساه الله حلة خضراء يحبر بها يوم القيامة

“ Barang siapa yang berta’ziyah kepada saudaranya yang beriman karena suatu musibah, kecuali Allah akan memakaikan kepadanya mahkota hijau yang dia bangga dengannya  pada hari kiamat.” (HR. Al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad (7/397). Hadist ini Hasan sebagaimana di dalam Irwa’ al-Ghalil : 3/217)

     ✍️ Hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“ Nabi pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah". Wanita itu berkata,: "Menjauhlah dari saya, karena kamu tidak mengalami musibah seperti yang aku alami ". Wanita itu tidak mengetahui beliau. Ketika hal itu  diberitahu kepadanya, maka wanita tersebut mendatangi rumah Nabi , ternyata beliau tidak ada pengawalnya, dan dia berkata; "Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda". Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya sabar itu pada saat pertama datang musibah". ( HR. Bukhari,1203 dan Muslim, 926)

(2)  Membuatkan Makanan Atau Membantu Meringankan Beban

     Yang sesuai sunah, tetangga, kerabat, dan teman-teman hendaknya bersegera memasakkan makanan dan dihadiahkan kepada keluarga mayit. Sebagaimana ada ketetapan dari Nabi ketika sampai kepada beliau berita kematian anak pamannya Ja’far bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu dalam perang Mu’tah, maka beliau bersabda :

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ (رواه الترمذي، رقم 998 وحسنه ، وأبو داود، رقم 3132 وابن ماجه، رقم 1610 وحسنه ابن كثير والشيخ الألباني)

“Masakkan makanan untuk keluarga Ja’far, sungguh telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya.” (HR. Tirmizi, no. 998, dinyatakan hasan oleh Abu Dawud, no.  3132, ibnu Majah, no. 1610 dan dinyatakan hasan juga oleh Ibnu Katsir dan Syaikh Albani)

قال الإمام الشافعي : " وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أَوْ ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ فِي يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فَإِنَّ ذَلِكَ سُنَّةٌ ، وَذِكْرٌ كَرِيمٌ ، وَهُوَ مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا ". انتهى من "الأم " (1/317) .

Imam Syafi’I mengatakan, “Saya menyukai bagi tetangga mayit atau kerabatnya memasakkan makanan untuk keluarga mayit pada hari kematian dan malam harinya yang dapat mengenyangkan. Karena hal itu termasuk sunah dan menjadi kenangan yang baik serta  termasuk perbuatan orang dermawan sebelum dan sesudah kami.” (Al-Umm, 1/317).

(3)  Mendoakan Dan Membantu Meringankan Beban

     Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berpendapat : “Sepanjang yang kami ketahui, tidak ada ucapan tertentu yang khusus dalam ta’ziyah. Namun, diriwayatkan bahwa Nabi pernah melayat seseorang dan mengucapkan:

رَحِمَكَ اللهُ وَآجَرَكَ

"Semoga Allah merahmatimu, dan memberimu pahala." (HR Tirmidzi, 4/60).

     Demikian juga membantu meringankan beban yang mana perkara tersebut termasuk hikmah disyari'atkan ta'ziyah.

Kalam Para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Seputar Niyahah Dan Acara Al-Ma'tam


     Jumhur ulama memakruhkan bagi keluarga mayit memasak makanan untuk disuguhkan kepada orang yang datang kepadanya. Baik pada hari kematian atau hari keempat, kesepuluh, keempat puluh atau pada awal tahun. Semuanya itu tercela.

     ✍️ Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya Al Umm berkata,

وأكره النياحة على الميت بعد موته وأن تندبه النائحة على الانفراد لكن يعزى بما أمر الله عزوجل من الصبر والاسترجاع وأكره المأتم وهى الجماعة وإن لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن

“Aku tidak suka niyahah (peratapan) pada mayit setelah kematiannya, begitu juga aku tidak suka jika bersedih tersebut dilakukan seorang diri. Seharusnya yang dilakukan adalah seperti yang الله Ta’ala perintahkan yaitu dengan bersabar dan mengucapkan istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi rooji’un). Aku pun tidak suka dengan acara ma’tam yaitu berkumpul di kediaman si mayit walau di sana tidak ada tangisan. Karena berkumpul seperti ini pun hanya membuat keluarga mayit mengungkit kesedihan yang menimpa mereka. ” (lihat Al Umm, 1: 318).

قال ابن الهمام الحنفي: " وَيُكْرَهُ اتِّخَاذُ الضِّيَافَةِ مِنْ الطَّعَامِ مِنْ أَهْلِ الْمَيِّتِ ؛ لِأَنَّهُ شُرِعَ فِي السُّرُورِ لَا فِي الشُّرُورِ، وَهِيَ بِدْعَةٌ مُسْتَقْبَحَةٌ ". انتهى من "فتح القدير" (2/142).

     ✍️ Ibnu Hamam Al-Hanafi mengatakan, ‘Dimakruhkan menjamu tamu dengan memasak makanan dari keluarga mayit. Karena hal itu disyariatkan pada (kesempatan) yang menggembirakan bukan (kondisi) yang menyedihkan. Dan itu termasuk bid’ah yang buruk.” (Fathul Qadir, 2/142).

وقال الحطَّاب المالكي : " أَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا ، وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ : فَقَدْ كَرِهَهُ جَمَاعَةٌ ، وَعَدُّوهُ مِنْ الْبِدَعِ ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ فِيهِ شَيْءٌ ، وَلَيْسَ ذَلِكَ مَوْضِعَ الْوَلَائِمِ ". انتهى من "مواهب الجليل في شرح مختصر خليل" (2/228).

      ✍️ Khottob Al-Maliki mengatakan, “Adapun jika keluarga mayit memasak makanan lalu  mengumpulkan orang untuk itu, maka sekelompok ulama telah memakruhkan dan memasukkannya sebagai bid’ah. Karena tidak dinukil adanya riwayat sedikitpun tentang hal itu. Dan itu bukan saatnya membuat walimah (pesta makan).” (Mawahib Jalil Fi Syarh Mukhtasor Kholil, 2/228).

وقال النووي : " وَأَمَّا إِصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا ، وَجَمْعُهُمُ النَّاسَ عَلَيْهِ ، فَلَمْ يُنْقَلْ فِيهِ شَيْءٌ ، وَهُوَ بِدْعَةٌ غَيْرُ مُسْتَحَبَّةٍ ". انتهى من "روضة الطالبين" (2/145).

     ✍️ Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adapun yang dilakukan keluarga mayit dengan membuatkan makanan dan mengumpulkan manusia (orang-orang) di kediaman mayit, maka tidak ada tuntunan dalam hal ini. Hal ini termasuk bid’ah yang tidak dianjurkan.” (lihat Roudhotul Tholibin 2/145)

وقال ابن قدامة : " فَأَمَّا صُنْعُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِلنَّاسِ : فَمَكْرُوهٌ ؛ لِأَنَّ فِيهِ زِيَادَةً عَلَى مُصِيبَتِهِمْ ، وَشُغْلًا لَهُمْ إلَى شُغْلِهِمْ ، وَتَشَبُّهًا بِصُنْعِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ ". انتهى من "المغني" (3/ 497).

     ✍️ Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Adapun keluarga mayit memasak makanan untuk orang, maka itu termasuk makruh karena semakin menambah musibahnya dan menyibukkan mereka dari kesibukan yang ada serta menyerupai apa yang dilakukan penduduk jahiliyah.” (Al-Mughni, 3/497).

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله : "وَأَمَّا صَنْعَةُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا يَدْعُونَ النَّاسَ إلَيْهِ فَهَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ وَإِنَّمَا هُوَ بِدْعَةٌ بَلْ قَدْ قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ: كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَتَهُمْ الطَّعَامَ لِلنَّاسِ مِنْ النِّيَاحَةِ. وَإِنَّمَا الْمُسْتَحَبُّ إذَا مَاتَ الْمَيِّتُ أَنْ يُصْنَعَ لِأَهْلِهِ طَعَامٌ، كَمَا قَالَ"النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ: {اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ}." من كتاب : مجموع الفتاوى ٢٤ذ\٣١٦-٣١٧
(https://ibntaymia.net/books/5564)

     ✍️ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun jika keluarga mayit membuat makanan dan mengundang orang datang kepadanya, hal itu tidak disyari'atkan bahkan suatu bid'ah. Sesungguhnya Jarir bin Abdullah berkata :

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَتَهُمْ الطَّعَامَ لِلنَّاسِ مِنْ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap bahwa berkumpul-kumpul di kediaman si mayit, lalu keluarga si mayit membuatkan makanan, ini termasuk niyahah (perbuatan meratapi mayit yang terlarang).” Sebaliknya yang disunnahkan ketika orang yang meninggal dunia adalah membuatkan makanan untuk keluarga si mayit, seperti yang disabdakan Nabi ketika wafatnya Ja'far bin Abi Thalib :

اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا ، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Buatkan makanan untuk keluarga Ja'far, karena telah datang kepada mereka sesuatu (kesedihan) yang menyibukkannya.” (lihat Majmu’ al-Fatawa 24/316-317)

وفي " فتاوى اللجنة الدائمة " (9/ 145) : " أما صنع أهل الميت طعاما للناس واتخاذهم ذلك عادة لهم : فغير معروف فيما نعلم عن النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا عن خلفائه الراشدين ، بل هو بدعة ، فينبغي تركها ؛ لما فيها من شغل أهل الميت إلى شغلهم ، ولما فيها من التشبه بصنع أهل الجاهلية ، والإعراض عن سنة الرسول صلى الله عليه وسلم وخلفائه الراشدين رضي الله عنهم ". انتهى .

     ✍️ Dalam Fatawa Lajnah Daimah, 9/145, “Adapun keluarga mayit memasakkan makanan untuk orang-orang dan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan, sepengetahuan kami tidak dikenal riwayatnya dari Nabi , tidak juga dari Khulafa’ Rosyidin, bahkan ia termasuk bid’ah. Selayaknya ditinggalkan. Karena termasuk menyibukkan keluarga mayit dari kesibukan yang ada dan menyerupai apa yang dilakukan penduduk jahiliyah serta berpaling dari sunah Rasulullah dan para khulafaur rosyidin radhiallahu anhum.”

وقالوا : " أما ما يفعله أهل الميت اليوم من عشاء وأربعينية فلا أصل له ، وإذا أرادوا الصدقة عن الميت بإطعام الطعام فينبغي أن لا يتقيدوا بيوم معين ، ولو تصدقوا على الفقراء بنقود فهو خير لهم ؛ لأنه أبعد عن الرياء وأنفع للفقراء وأبعد عن التشبه بغير المسلمين ". انتهى من "فتاوى اللجنة الدائمة" (9/ 149).

     Mereka mengatakan,”Apa yang dilakukan keluarga mayit sekarang dari membuat makan malam dan hari keempat puluh, tidak ada asalnya. Kalau mereka ingin bersodaqoh untuk mayit dengan memberi makanan, selayaknya jangan terikat dengan hari tertentu. Jika mereka bersodaqah dengan uang, itu lebih baik bagi mereka. Karena itu lebih jauh dari riya dan lebih bermanfaat untuk para fakir dan lebih jauh dari menyerupai non Islam.” (Fatawa Lajnah Daimah, 9/149).

والقول بالكراهة هو الذي عليه مذاهب الأئمة الأربعة ، كما سبق نقل أقوالهم ، وذهب بعض العلماء إلى التحريم .
قال ابن مفلح : " وَقِيلَ : يَحْرُمُ ، وَكَرِهَهُ أَحْمَدُ وَقَالَ : مَا يُعْجِبُنِي ، وَنَقَلَ جَعْفَرٌ : لَمْ يُرَخِّصْ لَهُمْ ، وَنَقَلَ الْمَرُّوذِيُّ : هُوَ مِنْ أَفْعَالِ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَأَنْكَرَهُ شَدِيدًا ". انتهى من " الفروع" (3/408).

     Pendapat makruh termasuk pendapat mazhab imam empat, sebagaimana telah kita nukil pendapat mereka. Sebagian ulama berpendapat mengharamkan. Ibnu Muflih mengatakan, “Ada pendapat yang mengharamkan. Sementara Ahmad memakruhkannya, seraya mengatakan, “Saya tidak menyukai.” Dinukil Ja’far yang tidak memberikan keringanan bagi mereka dalam hal ini. Marwazi menukilkan, “Itu termasuk prilaku orang jahiliyah dan sangat diingkari.” (Al-Furu, 3/408).


Hukum Jamuan Dari Keluarga Mayit


وفي "الموسوعة الفقهية" (16/ 44) : " وَاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ تُكْرَهُ الضِّيَافَةُ مِنْ أَهْل الْمَيِّتِ ؛ لأِنَّهَا شُرِعَتْ فِي السُّرُورِ ، لاَ فِي الشُّرُورِ... وَصَرَّحَ الْحَنَابِلَةُ بِأَنَّهُ يُكْرَهُ الأْكْل مِنْ طَعَامِ أَهْل الْمَيِّتِ ، فَإِنْ كَانَ مِنْ تَرِكَةٍ وَفِي مُسْتَحِقِّيهَا مَحْجُورٌ عَلَيْهِ : حُرِّمَ فِعْلُهُ ، وَالأْكْل مِنْهُ .
وَصَرَّحَ الْحَنَابِلَةُ وَالشَّافِعِيَّةُ ، بِأَنَّهُ يَحْرُمُ تَهْيِئَةُ الطَّعَامِ لِنَائِحَاتٍ ؛ لأِنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى الْمَعْصِيَةِ .
وَصَرَّحَ الْحَنَفِيَّةُ بِأَنَّهُ يُكْرَهُ اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِي أَيَّامٍ مُتَعَارَفٍ عَلَيْهَا كَالْيَوْمِ الأْوَّل ، وَالثَّالِثِ ، وَبَعْدَ الأْسْبُوعِ " انتهى .

      ✍️ Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, 16/14, “Para ulama fikih sepakat, dimakruhkan jamuan dari keluarga mayit, karena jamuan disyariatkan dalam kegembiraan bukan dalam kesedihan. Ulama dalam mazhab Hambali lebih tegas menyatakan makruh makan dari makanan keluarga mayit. Adapun jika dari harta warisannya sementara di dalamnya ada yang berhak (tapi) masih tertahan (pembagiannya), maka perbuatan itu diharamkan dan diharamkan makan darinya.
Ulama dalam mazhab Hanbali dan Syafii menegaskan bahwa diharamkan menyediakan makanan bagi orang yang meratap karena kematian karena termasuk membantu dalam kemaksiatan.
Sementara Hanafiyah menegaskan memakruhkan membuat makanan di hari-hari yang dikenal seperti pada hari pertama, ketiga setelah seminggu.”

Adanya Pengecualian Dari Makruh

     يستثنى من الكراهة : صنع الطعام لمن ينزل بهم من الضيوف إذا كان صنعه على سبيل الإكرام ، لا بسبب الوفاة.

     ✍️ Dikecualikan dari makruh, memasak makanan bagi para tamu yang tinggal di rumah itu jika tujuan membuatkannya dalam rangka menghormatinya, bukan sebab kematian.

قال ابن قدامة : " وَإِنْ دَعَتْ الْحَاجَةُ إلَى ذَلِكَ جَازَ ؛ فَإِنَّهُ رُبَّمَا جَاءَهُمْ مَنْ يَحْضُرُ مَيِّتَهُمْ مِنْ الْقُرَى وَالْأَمَاكِنِ الْبَعِيدَةِ ، وَيَبِيتُ عِنْدَهُمْ ، وَلَا يُمْكِنُهُمْ إلَّا أَنْ يُضَيِّفُوهُ " انتهى من "المغني" (3/497).

     ✍️ Ibnu Qudamah mengatakan, “Kalau ada keperluan untuk itu, maka diperbolehkan. Karena terkadang ada orang yang bertakziah datang dari desa dan tempat jauh lalu menginap di rumahnya, maka  tidak ada cara lain kecuali menghormatinya.” (lihat Al-Mughni, no. 3/497).

قال الشيخ ابن باز : " أما إن نزل بأهل الميت ضيوف زمن العزاء : فلا بأس أن يصنعوا لهم الطعام من أجل الضيافة ، كما أنه لا حرج على أهل الميت أن يدعوا من شاؤوا من الجيران والأقارب ليتناولوا معهم ما أهدي لهم من الطعام " انتهى من "فتاوى الشيخ عبد العزيز بن باز" (9/325).

      ✍️ Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, “Kalau ada tamu yang tinggal di keluarga mayit saat berkabung, maka tidak mengapa memasak untuk mereka makanan untuk memuliakannya,  sebagaimana tidak mengapa bagi keluarga mayit mengundang orang yang dikehendakinya dari tetangga dan kerabat untuk makan bersama mereka dari makanan yang disuguhkan.” (Fatawa Syaikkh Abdul Aziz Bin Baz, 9/325).

وفي "فتاوى اللجنة الدائمة" (8/ 378) : " وأما صنع الطعام من أهل الميت للناس فهو خلاف السنة ، بل هو منكر... إلا إذا نزل بهم ضيف : فلا بأس " انتهى.

     ✍️ Dalam ‘Fatawa Lajnah Daimah (8/378) “Adapun memasak makanan dari keluarga mayit untuk orang-orang itu menyalahi sunnah, bahkan itu termasuk kemungkaran. Kacuali kalau ada tamu yang tinggal, maka tidak mengapa (diberi makanan).”

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.


Selasa, 04 Juni 2024

Tiada Yang Merasa Aman Dari Kemunafiqan Kecuali Seorang Munafiq


 

Tiada Yang Merasa Aman Dari Kemunafiqan Kecuali Seorang Munafiq


     Para Shahabat Nabi takut tertimpa kemunafikan.

وقال ابنُ أبي مُلَيْكَة : أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ .

“Ibnu Abi Mulaikah pernah berkata : Aku telah mendapati 30 orang sahabat Nabi , semuanya khawatir pada dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari no. 36)

وسُئِلَ الإمامُ أحمد : مَا تَقُوْلُ فِيْمَنْ لاَ يَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاق ؟ فقال : وَمَنْ يَأمَنُ عَلَى نَفْسِهِ النِّفَاقَ ؟

Imam Ahmad pernah ditanya, “Apa yang kau katakana pada orang yang tidak khawatir pada dirinya kemunafikan?” Beliau menjawab, “Apa ada yang merasa aman dari sifat kemunafikan?”

وقال الحسن البصري: ما خافه إلا مؤمن، وما أمنه إلا منافق.

     Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,
“Orang yang takut terjatuh pada kemunafikan, itulah orang mukmin. Dan tidak ada seorang pun yang merasa aman darinya (kemunafiqan) kecuali orang munafiq.” (lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 491)

يعني: ما خاف النفاق إلا مؤمن، وما أمنه إلا منافق، فالمنافق يأمن من النفاق؛ لأنه منافق، والمؤمن يخافه على نفسه وذلك دليل إيمانه.

     Itu artinya tidak ada seorang pun yang takut terhadap kemunafikan kecuali orang yang beriman, dan tidak ada seorang pun yang merasa aman darinya kecuali seorang munafik yang dirinya merasa aman dari kemunafikan. Karena dia adalah seorang munafik. Dan orang mukmin itu mengkhawatirkan dirinya sendiri, dan itu menunjukkan keimanannya.

Minggu, 02 Juni 2024

Nasab Tiada Manfaat Walau Engkau Seorang Habib Keturunan Nabi ﷺ



 

Nasab Tiada Manfaat Walau Engkau Seorang Habib Keturunan Nabi ﷺ

Hanya Dengan Beramal Sholih Yang Bisa Menjadikan Semakin Mulia di Akhirat

     Di dalam Al Qur'an الله Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi الله ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya الله Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat/49: 13)

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am: 132 dan Al Ahqaf: 19). Ayat ini menunjukkan bahwa amalanlah yang menaikkan derajat hamba menjadi mulia di akhirat.

      Nabi pernah bersabda,

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang lamban amalnya, maka nasabnya tidak bisa mengejarnya” (HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah).

     Siapa yang lamban amalnya, maka itu tidak bisa mengejar kedudukan mulia di sisi الله walau ia memiliki nasab (keturunan) yang mulia. Nasabnya itu tidak bisa mengejar derajat mulia di sisi الله. Karena kedudukan mulia di sisi الله adalah timbal balik dari amalan yang baik, bukan dari nasab. Sebagaimana yang الله Ta’ala sebutkan dalam ayat lainnya,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mu’minun: 101). (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 308.)


Nabi ﷺ Tidak Bisa Menolong Fathimah ( Puteri Muhammad ) Jika Hanya Dengan Sebab Nasab


     Dalam shahihain disebutkan hadits dari Abu Hurairah, di mana ia berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ ) قَالَ « يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ – أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا – اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ ، لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِى عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِى عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا »

“Rasulullah berdiri ketika turun ayat, ” Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy Syu’ara: 214). Lalu beliau berkata, “Wahai orang Quraisy -atau kalimat semacam itu-, selamatkanlah diri kalian sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani ‘Abdi Manaf, sesungguhnya aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai ‘Abbas bin ‘Abdul Muthollib, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Shofiyah bibi Rasulullah, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad, mintalah padaku apa yang engkau mau dari hartaku, sesungguhnya aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah.” (HR. Bukhari no. 2753 dan Muslim no. 206).

     Imam Syafi’i pula menyatakan :

يـــــا أهل بيت رســول الله حُبكم ….. فرضٌ من الله في القرآنِ أنزله
يكفيكم من عظيم الفخـــر أنكم ….. من لم يصل عليكم لا صلاة له

“Wahai ahli bait Rasulullah, mencintai kalian
adalah kewajiban yang ditetapkan Allah di dalam al-Quran yang diturunkan-Nya
Cukup bagi kalian dari kebanggaan terbesar yang ada
bahwa orang yang tidak bershalawat kepada kalian (di dalam shalat), maka tidaklah sah shalatnya.”
(lihat I’anatut Thalibin :1/200).
.

Makar Jahat Akun Dusta Ummu Andini Haidar Rabu, 10-03-1447 H/03-09-2025 M

  Makar Jahat Akun Dusta Ummu Andini Haidar  Rabu, 10-03-1447 H/03-09-2025 M Maka kita katakan : 🔸 Itu termasuk perbuatan merubah dan mend...