Kamis, 25 April 2024

Tunjukkan Burhan Jika Kalian Orang Yang Benar


 

Tunjukkan Burhan Jika Kalian Orang Yang Benar
هَاتُوْا بُرْهَانَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ



فَمَنۡ حَآجَّكَ فِيهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡاْ نَدۡعُ أَبۡنَآءَنَا وَأَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰذِبِينَ.(آل عمران : ٦١)


Daripada engkau sibuk mira', jidal dan khushumah..
Syirik niat cari popularitas menginginkan masyhurah..
Debat kusir, dusta dan kibr menimbulkan mafsadah..
Tiada mashlahah serta menyelisihi Ushulus Sunnah..

Maka lebih baik engkau tulis bantahan secara ilmiyah..
Mendatangkan dalil dan bayan untuk iqomatul hujjah..
Dari Kitabullah dan As Sunnah bifahmi Salafil Ummah..
Sebagai burhan engkau di atas al haq dan bukan Ahlul Bid'ah.

Jika tetap tiada pihak yang mau mengaku salah..
Bisa diselesaikan dengan berhakim kepada Allah..
Tunjukkan kebenaran lewat manhaj mubahalah..
Siapa yang pendusta semoga mendapat la'nah.

Mubahalah termasuk salah satu metode dakwah..
Dan sebagai hakim pemutus perselisihan masalah..
Yang diajarkan Rasulullah dan para Salaful Ummah..
Semoga dengannya kebatilan sirna dan segera musnah.

Hubungi : Teguh Akhiri Wiyanto (Hazim Al Jawiy) wa.me/6285226371103


Kamis, 17 Syawwal 1445 H

Jumat, 19 April 2024

Intiqod Dan Meluruskan Atas Faham Sesat "Bid'ah Shalat Melepas Sandal"









 Intiqod Dan Meluruskan Atas Faham Sesat "Bid'ah Shalat Melepas Sandal"
https://kesesatanfahamummuandini.blogspot.com/2024/04/intiqod-dan-meluruskan-atas-faham-sesat.html?m=1


     Dalam  poster tersebut disebutkan bahwa sholat melepas sandal dikatakan bid'ah. Pada keterangan gambar disebutkan dalil sehingga mengesankan mereka yang tidak melakukan hal tersebut salah. Klaim manhaj Salaf di gambar ini lagi-lagi sekadar pengakuan yang penuh kebohongan. Berikut ini sebagai bantahan atas faham sesat tersebut :

1.  Dalil Disyariatkan Shalat Memakai Sandal

     Dari Abu Maslamah Sa’id bin Yazid beliau berkata,

سألتُ أنسَ بنَ مالكٍ: أكان النبيُّ صلى الله عليه وسلم يُصلي في نَعْلَيه قال: نعم

Aku bertanya kepada Anas bin Malik, apakah Nabi pernah shalat memakai sandai? Beliau menjawab, ya’” (HR. Al-Bukhari no. 386).

     Dari Syaddad bin Aus radhiallahu’anhu,  Nabi  bersabda,

خالِفوا اليَهودَ فإنَّهم لا يصلُّونَ في نعالِهِم ولا خفافِهِم

Selisihilah kaum Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai sandal dan sepatu mereka” (HR. Abu Daud no. 652, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud). Setelah membawakan hadits ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,

وهو يدل على شرعية الصلاة في النعال

“Hadits ini menunjukkan disyariatkannya shalat dengan menggunakan sandal” (lihat Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 9/357).

2. Dalil Bolehnya Sholat Tanpa Alas Kaki

     Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash radhiallahu’anhu beliau mengatakan,

رأيت رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم يصلي حافيا ومنتعلا

“Aku pernah melihat Rasulullah shalat dengan tanpa alas kaki dan pernah juga dengan memakai sandal” (HR. Abu Daud no.653, Al-Albani dalam Shahih Abu Daud mengatakan hasan shahih).

     Dari kakeknya ‘Amr bin Syu’aib, ia berkata,

رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي يَنفتِلُ عن يمينِهِ وعن شمالِهِ ، ورأيتُهُ يصلِّي حافيًا ومُنتعلًا ، ورأيتُهُ يشرَبُ قائمًا وقاعدًا

Aku pernah melihat Rasulullah shalat lalu setelah selesai berbalik ke sebelah kanan dan pernah juga berbalik ke sebelah kiri, aku pernah melihat beliau shalat tanpa sandal dan pernah juga menggunakan sandal, aku pernah melihat beliau minum sambil berdiri dan pernah juga sambil duduk” (HR. Ahmad 10/119, Ahmad Syakir mengatakan: “sanadnya shahih”).

3.  Dalil Bolehnya Sholat Melepas Sandal

     Abu Dawud menulis: 

ﺑﺎﺏ اﻟﻤﺼﻠﻲ ﺇﺫا ﺧﻠﻊ ﻧﻌﻠﻴﻪ ﺃﻳﻦ ﻳﻀﻌﻬﻤﺎ

Artinya: Jika orang yang shalat melepas sandalnya, di mana ia meletakkan keduanya?

Lalu Abu Dawud meriwayatkan hadits no 654: 


ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «ﺇﺫا ﺻﻠﻰ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻼ ﻳﻀﻊ ﻧﻌﻠﻴﻪ ﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ، ﻭﻻ ﻋﻦ ﻳﺴﺎﺭﻩ، ﻓﺘﻜﻮﻥ ﻋﻦ ﻳﻤﻴﻦ ﻏﻴﺮﻩ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻦ ﻳﺴﺎﺭﻩ ﺃﺣﺪ، ﻭﻟﻴﻀﻌﻬﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺭﺟﻠﻴﻪ»

Artinya: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: Jika di antara kalian shalat, maka jangan letakkan kedua sandalnya di kanan atau di kiri, maka engkau berada di kanan yang lain kecuali di sebelah kirinya ada seseorang, maka letakkan sandal tersebut di antara kedua kakinya.

     Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu,

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى فخَلعَ نَعليهِ فخلعَ النَّاسُ نعالَهُم فلمَّا انصرَف قالَ: لمَ خَلعتُمْ نعالَكُم ؟ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ، رأيناكَ خلَعتَ فخَلَعنا قالَ: إنَّ جَبرئيلَ أتاني فأخبرَني أنَّ بِهِما خَبثًا فإذا جاءَ أحدُكُمُ المسجِدَ فليقلِب نعليهِ فلينظُر فيهما خبثٌ؟، فإن وجدَ فيهما خبثًا فليمسَحهما بالأرضِ، ثمَّ ليصلِّ فيهما

“Rasulullah  ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para shahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’” (HR. Al-Hakim 1/541, Abu Daud no. 650, Ibnu Hibban no. 2185, Al-Hakim menyatakan shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, Al-Albani dalam Shahih Abu Daud menyatakan Shahih).

4.  Sholat Pakai Sandal Termasuk Perkara Yang Disyari'atkan Dan Termasuk Sunnah Nabi

     Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa shalat memakai sandal adalah hal yang disyariatkan dan tidak terlarang. Namun bukan sesuatu yang dilakukan terus-menerus oleh Rasulullah , sebagaimana ditegaskan dalam sebagian riwayat di atas bahwa beliau terkadang melakukannya dan terkadang tidak. Maka yang paling tepat dalam mengamalkan sunnah ini adalah terkadang shalat memakai sandal dan terkadang tidak.

5.   Shalat Pakai Sandal Hukum Asalnya Disyari'atkan Selama Tidak Najis Dan Mengotori Masjid

     Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

فَفِي هَذَا بَيَانٌ أَنَّ صَلَاتَهُمْ فِي نِعَالِهِمْ، وَإِنَّ ذَلِكَ كَانَ يُفْعَلُ فِي الْمَسْجِدِ إذَا لَمْ يَكُنْ يُوطَأُ بِهِمَا عَلَى مَفَارِشَ

“Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa shalat mereka (Nabi dan para sahabat) itu menggunakan sandal. Dan hal ini terkadang dilakukan di masjid selama tidak mengotori kain alas lantai (tiker/karpet)” (Fatawa Al-Kubra, 2/62).

6. Perbedaan Ulama Dalam Perkara Sholat Memakai Sandal

     Ada perbedaan ulama terkait memakai sandal adalah antara rukhshah (keringanan) berarti mubah (boleh) dan sunnah (dianjurkan). Tidak ada ulama yang mengatakan memakai sandal dalam shalat itu wajib. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathur Baari (1/494),

قَالَ بن بَطَّالٍ هُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِمَا نَجَاسَةٌ ثُمَّ هِيَ مِنَ الرُّخَصِ كَمَا قَالَ بن دَقِيقِ الْعِيدِ لَا مِنَ الْمُسْتَحَبَّاتِ لِأَنَّ ذَلِكَ لَا يَدْخُلُ فِي الْمَعْنَى الْمَطْلُوبِ مِنَ الصَّلَاةِ

“Ibnu Bathal menyebutkan bahwa maksud dibolehkannya memakai sandal ini adalah selama tidak ada najis pada sandal tersebut. Dan ini merupakan rukhshah (kemudahan), sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al-Ied. Sehingga bukan sesuatu yang mustahab (dianjurkan), karena hal ini tidak termasuk pada hakikat yang dituju dari shalat.”

7.  Sholat Tanpa Alas Kaki Dan Melepas Sandal Bukan Termasuk Perkara Bid'ah, Karena Nabi Dan Para Shahabat Juga Pernah Sholat Tanpa Alas Kaki


Kesimpulan


■  Al Qur'an dan As Sunnah wajib dipahami sesuai pemahaman para Shahabat Nabi, agar tidak sesat.

لماذا يجب ان نفهم القرآن والسنة على فهم الصحابة رضي الله عنهم؟
قال العلامة ابن القيم رحمه الله تعالى : "أفهام الصحابة فوق أفهام جميع الأمة، وعلمهم بمقاصد نبيهم ﷺ ، وقواعد دينه وشرعه، أتمّ من عِلم كل مَن جاء بعدهم."  (الطرق الحكمية ٣٢٤/١)

Mengapa kita wajib memahami Al Qur'an Dan As Sunnah dengan pemahaman Para Shahabat ?
Al Allamah Ibnul Qayyim رحمَـہ الله تَعـَالَـى berkata : "Pemahaman Shahabat رضي اللّه عنهم diatas pemahaman seluruh umat. Dan ilmu mereka tentang maksud tujuan Nabi ﷺ dan kaidah-kaidah agamanya dan syari'atnya lebih sempurna daripada ilmu setiap orang yang hidup setelah mereka." (lihat At Turuqul Hikmiyyah : 1/324)

■  Sholat pakai sandal atau alas kaki hukumnya disyari'atkan dan tiada ulama Ahlus Sunnah yang mewajibkan.

■  Sholat tanpa alas kaki atau melepas sandal bukan termasuk perkara bid'ah, karena Nabi dan Para Shahabat juga pernah sholat tanpa alas kaki.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Ahlus Sunnah Itu Ahlul Wasath, Antara Ifrath ( إفراط ) Dan Tafrith ( تفريط )










 


Ahlus Sunnah Itu Ahlul Wasath, Antara Ifrath ( إفراط ) Dan Tafrith ( تفريط )


Polemik Bid'ah ( Perkara Baru Yang Tiada Contohnya Dari Nabi Dan Para Shahabat )
https://kesesatanfahamummuandini.blogspot.com/2024/04/ahlus-sunnah-itu-ahlul-wasath-antara.html?m=1


Makna Bid'ah Secara Bahasa

     Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. الله berfirman :

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah pencipta langit dan bumi” (terjemahan makna QS. Al-Baqarah/2 : 117, Al An'am : 101). Artinya adalah الله yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya. Juga firman-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (terjemahan makna QS. Al Ahqaf : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini.


Definisi Bid'ah Secara Istilah

     Al Imam Asy Syathibi dalam Al I’tishom, beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah :

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

"Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada الله Ta’ala."

     Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi). Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah

طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ

Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada الله). (lihat Al I’tishom, 1/26, imam Asy Syathibi)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ

“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (lihat Majmu’ Al Fatawa, 18/346)

     Sebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bid’ah secara istilah. Ada yang memakai definisi bid’ah sebagai lawan dari Sunnah (ajaran Nabi ), sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy Syathibi, Ibnu Hajar Al Atsqolani, Ibnu Hajar Al Haitami, Ibnu Rojab Al Hambali dan Az Zarkasi. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bid’ah secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah baik yang terpuji dan tercela. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Al ‘Izz bin Abdus Salam, Al Ghozali, Al Qorofi dan Ibnul Atsir.

     Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna.  Marilah kita renungkan firman الله Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah : 3)


Ahlus Sunnah Antara Ifrath Dan Tafrith

     Terkait pemahaman terhadap perkara bid'ah ada dua kutub ekstrim penyimpangan, yaitu kutub ifrath dan kutub tafrith.

■  Golongan/kutub Ifrath mengatakan semua bidah adalah sesat tanpa terkecuali. Sampai membid'ahkan perkara dunia ataupun bid'ah dari segi bahasa. Sehingga mengharamkan perkara-perkara semisal : haji naik pesawat, mengharamkan sholat Tarawih berjamaah di masjid lebih dari 3 malam, mengharamkan sholat Dhuha, membid'ahkan sholat tidak pakai sandal, membid'ahkan khuthbah Jum'at dan khuthbah shalat 'Id dengan selain bahasa Arab dan perkara semisal. Akan tapi realitanya golongan ini sebenarnya juga banyak yang tidak konsisten. Mereka membaca Al-Qur’an yang menggunakan khat Naskhi dengan harakat dan titik. Padahal hal tersebut tidak pernah ada di zaman Rasul, dan Rasul tidak pernah mengajarkannya. Lebih parah lagi banyak dari mereka yang mendirikan jam'iyyah, iftiraq mengadakan sholat Jum'at sendiri, mendirikan panti asuhan (TN/TB) yang mana perkara tersebut menyelisihi Salaful Ummah.

■  Golongan kutub/Tafrith yaitu golongan yang lalai dan meremehkan bid'ah. Mereka meyakini tidak semua bid'ah itu sesat walau tidak ada contohnya dari Nabi, para Shahabat dan para aimah madzhab Ahlus Sunnah. Hadits وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ , makna كُلُّ mereka pahami ada pengecualian sebagaimana ayat : ( كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ). Sehingga mereka bermudah-mudahan atau meremehkan perkara bid'ah. Seperti mengadakan hari raya 'Idul Abrar, perayaan maulidan ataupun dzikir jama'ah. Padahal para Shahabat Nabi mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid (sebagaimana diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).

     Adapun millah dan manhaj Ahlus Sunnah adalah jalan tengah yang adil, mereka berjalan berdasarkan ilmu dari Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah (para Shahabat). Mereka berada di antara sikap ifrath dan tafrith dengan mengikuti Nabi, para Shahabat, para Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in.


Para Sahabat Nabi Mengingkari Amalan Bid’ah

     Para sahabat Nabi radhiyaallahu 'anhum, mereka mengingkari orang yang melakukan ibadah jika disertai kebid’ahan. Walaupun niatnya baik dan bentuknya adalah ibadah. Sebagaimana Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau mengingkari orang-orang yang berdzikir secara berjama’ah di masjid. Dikisahkan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu’anhu:

قال رأيتُ في المسجدِ قومًا حِلَقًا جلوسًا ينتظرون الصلاةَ في كلِّ حلْقةٍ رجلٌ وفي أيديهم حصًى فيقول كَبِّرُوا مئةً فيُكبِّرونَ مئةً فيقول هلِّلُوا مئةً فيُهلِّلون مئةً ويقول سبِّحوا مئةً فيُسبِّحون مئةً قال فماذا قلتَ لهم قال ما قلتُ لهم شيئًا انتظارَ رأيِك قال أفلا أمرتَهم أن يعُدُّوا سيئاتِهم وضمنتَ لهم أن لا يضيعَ من حسناتهم شيءٌ ثم مضى ومضَينا معه حتى أتى حلقةً من تلك الحلقِ فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبدَ الرَّحمنِ حصًى نعُدُّ به التكبيرَ والتهليلَ والتَّسبيحَ قال فعُدُّوا سيئاتِكم فأنا ضامنٌ أن لا يضيعَ من حسناتكم شيءٌ ويحكم يا أمَّةَ محمدٍ ما أسرعَ هلَكَتِكم هؤلاءِ صحابةُ نبيِّكم صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ مُتوافرون وهذه ثيابُه لم تَبلَ وآنيتُه لم تُكسَرْ والذي نفسي بيده إنكم لعلى مِلَّةٍ هي أهدى من ملةِ محمدٍ أو مُفتتِحو بابَ ضلالةٍ قالوا والله يا أبا عبدَ الرَّحمنِ ما أردْنا إلا الخيرَ قال وكم من مُريدٍ للخيرِ لن يُصيبَه إنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حدَّثنا أنَّ قومًا يقرؤون القرآنَ لا يجاوزُ تراقيهم يمرُقونَ من الإسلامِ كما يمرُقُ السَّهمُ منَ الرَّميّةِ وأيمُ اللهِ ما أدري لعلَّ أكثرَهم منكم ثم تولى عنهم فقال عمرو بنُ سلَمةَ فرأينا عامَّةَ أولئك الحِلَقِ يُطاعِنونا يومَ النَّهروانِ مع الخوارجِ

“Abu Musa Al Asy’ari berkata: aku melihat di masjid ada beberapa orang yang duduk membuat halaqah sambil menunggu shalat. Setiap halaqah ada seorang (pemimpin) yang memegangi kerikil, kemudian ia berkata: bertakbirlah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertakbir 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertahlil lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertahlil 100 kali. Kemudian pemimpinnya berkata: bertasbih lah 100 kali! Maka para pesertanya pun bertasbih 100 kali. 

Ibnu Mas’ud berkata: lalu apa yang engkau katakan kepada mereka wahai Abu Musa? Abu Musa menjawab: aku tidak katakan apapun karena menunggu pandanganmu. Ibnu Mas’ud berkata: mengapa tidak engkau katakan saja pada mereka: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. 

Kemudian Ibnu Mas’ud pergi dan kami pun pergi bersama beliau. Sampai pada suatu hari Ibnu Mas’ud mendapati sendiri halaqah tersebut. Lalu beliau pun berdiri di hadapan mereka.

Ibnu Mas’ud berkata: apa yang kalian lakukan ini? Mereka menjawab: Wahai Abu Abdirrahman, ini adalah kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih! Ibnu Mas’ud berkata: hitunglah keburukan-keburukan kalian saja, maka aku jamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sama sekali. Wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kalian binasa! Demi Allah, yang kalian lakukan ini adalah ajaran agama yang lebih baik dari ajaran Muhammad atau kalian sedang membuka pintu kesesatan!

Mereka mengatakan: Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak menginginkan apa-apa kecuali kebaikan! Ibnu Mas’ud menjawab: betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah mengatakan kepada kami tentang suatu kaum yang mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi (bacaan mereka) tidak melewati tenggorokan mereka, demi Allah, saya tidak tahu bisa jadi kebanyakan mereka adalah dari kalian. Kemudian Ibnu Mas’ud meninggalkan mereka”. 

Amr bin Salamah berkata , ”Kami melihat kebanyakan orang-orang yang ada di halaqah itu adalah orang-orang yang ikut melawan kami di barisan khawarij pada perang Nahrawan” (Diriwayatkan Ad Darimi dalam Sunan-nya no.210, dishahihkan Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah, 5/11).

     Lihatlah! Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu mengingkari orang-orang yang berdzikir, namun dzikir mereka dengan tata cara yang bid’ah. Apakah kita akan menuduh Ibnu Mas’ud melarang orang berdzikir?! Tentu tidak, karena yang beliau ingkari bukan ibadah dzikir namun dzikir yang disertai kebid’ahan.


Perkara Bid'ah Hukum Asalnya Tercela Dan Haram


     Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim, disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718).

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin Al-Mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

     Beliau ﷺ juga bersabda :

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867). Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

     Maka kebid’ahan tetaplah buruk walaupun dinamakan sebagai ibadah atau dzikir atau shalawat atau doa atau sebutan-sebutan baik lainnya. Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:

كلُّ بدعةِ ضلالةٍ وإن رآها النَّاسُ حَسنةً

“Setiap kebid’ahan itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” (Diriwayatkan Ibnu Bathah dalam Al Ibanah no. 175, Al Lalika-i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah no. 104, dishahihkan Al Albani dalam Ishlahul Masajid hal. 13).

     Perhatikan nasehat Sa’id bin Musayyab rahimahullah. Sa’id bin Musayyab adalah seorang ulama besar di kalangan tabi’in, yang beliau dijuluki “alim ahlil Madinah” (ulamanya penduduk Madinah) dan juga “sayyidut tabi’in” (pemimpinnya para tabi’in). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya,

رأى سعيد بن المسيب رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة

“Sa’id bin al Musayyab melihat seorang yang shalat setelah terbit fajar lebih dari dua raka’at, yang ia memperpanjang rukuk dan sujudnya. Lalu Sa’id bin al Musayyab melarangnya. 
Maka orang tadi berkata: Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan mengazab saya gara-gara saya shalat?
Sa’id bin al Musayyab menjawab: bukan demikian, namun Allah akan mengazabmu karena menyelisihi sunnah” (Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 2/466, Ad Darimi 1/404-405, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil, 2/236).

     Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

والمحدثات ضربان : ما أُحدِثَ مما يُخالف كتاباً ، أو سنةً ، أو أثراً ، أو إجماعاً ، فهذه البدعة الضلال ، وما أُحدِث مِنَ الخير ، لا خِلافَ فيه لواحدٍ مِنْ هذا ، وهذه محدثة غيرُ مذمومة

“Perkara yang muhdats (yang baru) itu ada dua macam, yaitu perkara yang dibuat-buat dan menyelisihi Al Qur’an, As Sunnah, atsar (Shahabat) dan ijma’, maka ini termasuk bid’ah dholalah (yang sesat). Sedangkan perkara yang masih dalam kebaikan yang tidak menyelisihi dalil-dalil tadi, maka itu bukanlah perkara baru yang tercela” (Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’I (1: 468-469).)

     Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata,

فكلُّ من أحدث شيئاً ، ونسبه إلى الدِّين ، ولم يكن له أصلٌ من الدِّين يرجع إليه ، فهو ضلالةٌ ، والدِّينُ بريءٌ منه ، وسواءٌ في ذلك مسائلُ الاعتقادات ، أو الأعمال ، أو الأقوال الظاهرة والباطنة .

“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin.” (lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2 : 128.)

     Beliau rahimahullah juga berkata,

والمراد بالبدعة : ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً

“Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun jika didukung oleh dalil syar’i, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa.” (lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2 : 127.)

     Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام

“Yang dimaksud setiap bid’ah adalah sesat yaitu setiap amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung baik dalil khusus atau umum.” (lihat Fathul Bari, 13 : 254.)

      Ibnu Hajar juga menyatakan mengenai bid’ah,

مَنْ اِخْتَرَعَ فِي الدِّين مَا لَا يَشْهَد لَهُ أَصْل مِنْ أُصُوله فَلَا يُلْتَفَت إِلَيْهِ

“Siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama lalu tidak didukung oleh dalil, maka ia tidak perlu ditoleh.” (Fathul Bari, 5 : 302.)

     Di tempat lain, Ibnu Hajar berkata,

وَمَا كَانَ لَهُ أَصْل يَدُلّ عَلَيْهِ الشَّرْع فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ ، فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة بِخِلَافِ اللُّغَة فَإِنَّ كُلّ شَيْء أُحْدِث عَلَى غَيْر مِثَال يُسَمَّى بِدْعَة سَوَاء كَانَ مَحْمُودًا أَوْ مَذْمُومًا

“Sesuatu yang memiliki landasan dalil dalam syari’at, maka itu bukanlah bid’ah. Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela berbeda dengan pengertian bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.” (lihat Fathul Bari, 13 : 253.)

     Setelah memahami yang dikemukakan di atas, pengertian bid’ah secara ringkas adalah,

ما أحدث في الدين من غير دليل

“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil.” (Lihat Qowa’id Ma’rifatil Bida’, hal. 22.).
Inilah yang dimaksud dengan bid’ah yang tercela dan dicela oleh Islam.

     Ringkasnya semua perkara bid'ah itu hukum asalnya tercela dan haram, kecuali :
(1) bid'ah dalam perkara dunia,
(2) bid'ah secara bahasa yang hakikatnya tidak menyelisihi dalil shahih,
(3) terdapat ijma' karena umat ini tidak mungkin bersepakat di atas kesesatan, sehingga ijma' termasuk hujjah. Contoh : shalat Tarawih berjama'ah di masjid, pengumpulan dan penulisan mushaf Al Qur'an, membaca Al-Qur’an yang menggunakan khat Naskhi dengan harakat dan titik serta perkara-perkara yang semisal.

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

Jum'at, 10 Syawwal 1445 H/19-04-2024

Waspadalah Terhadap Kesesatan Nyai Andini Pemilik Akun FB "Ummu Andini Haidar"




 

Waspadalah Terhadap Kesesatan Nyai Andini
Pemilik Akun FB "Ummu Andini Haidar"


     Dia menggunakan identitas majhul serta tidak mau menunjukkan KTP ataupun WA saat kuminta. Sehingga tidak diketahui secara pasti apa dirinya perempuan atau laki-laki, muslim atau kafir, manusia atau jin. Dirinya mengklaim sebagai Salafi. Ada yang bilang gurunya "hizb Salafi milenial". Pengikutnya sekitar 7 ribu.

     Dia sendiri telah mempersilahkan diriku menulis kesesatannya. Diantara poin kesesatan dia yang menyelisihi Salaful Ummah (para Sahabat Nabi) atau madzhab/manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yaitu :

1. Dia menyamakan orang yang sujud menghadap Ka'bah itu seperti para penyembah kuburan (kuburiyyun) sehingga dia katakan "Ka'bahiyyun".

2. Dia mengatakan "BID'AH = SESAT" sehingga sholat Tarawih berjama'ah di masjid lebih dari 3 malam adalah sesat.

3.  Dia mewajibkan zakat fitrah (=zakat fithri) itu wajib dengan kurma atau gandum. Zakat dengan 1 sho' makanan selain kurma dan gandum adalah bid'ah sesat.

4.  Dia mewajibkan sholat pakai sandal. Sholat dengan melepas sandal termasuk bid'ah sesat.

5.  Dia mengatakan "MAYORITAS = SESAT" sehingga sholat Idul Fithri bersama pemerintah adalah kesesatan.

6.  Dia mengatakan sholat Dhuha adalah bid'ah sesat.

7.  Dia mengatakan bahwa berbuka puasa dengan kurma dan air itu Sunnah yang wajib dikerjakan. Siapa yang berbuka dengan selain kurma dan air maka berdosa.

8.  Dia melarang umat Islam menyambut bulan Ramadhan dengan hati bergembira.

9.  Dia mewajibkan menjilat jari dan piring setelah makan. Siapa yang meninggalkan maka berdosa.

10. Dia melarang berdoa mendoakan orang tua, doa hendak makan, doa bepergian, doa hendak tidur dll.

11. Dia mengharamkan shodaqoh atau membawakan bahan makanan ketika ta'ziyyah, karena yang benar memasakkan makanan.

12. Dia melarang membaca Al Qur'an pada malam Jum'at termasuk membaca surat Al Kahfi.

13. Dia mewajibkan menutup telinga dengan jari tangan tatkala tidak sengaja mendengar musik karena musik haram. Padahal yang benar yaitu yang berdosa itu orang yang sengaja mendengarkan dan menikmati musik.

14. Dia mengatakan sholat dengan pakaian warna putih itu termasuk Sunnah Nabi yang wajib dikerjakan. Sehingga orang yang sholat tidak pakai baju warna putih maka berdosa.

15. Dia mengatakan ziarah kubur ke kuburan Nabi adalah bid'ah yang sesat meski dilakukan ketika haji (walau tidak mengkhususkan safar untuk ziarah qubur)

16. Dia mengatakan wajibkan menyemir rambut yang sudah beruban dengan warna selain hitam. Menyemir rambut dengan warna warni. Siapa yang meninggalkan maka berdosa.

17. Dia mewajibkan menyemir jenggot yang sudah beruban dengan warna merah/kuning. Yang meningggalkan maka berdosa.

18. Dia mewajibkan meratakan kuburan. Tidak boleh meninggikan walau sejengkal. Makam para Shahabat Nabi di Baqi' Madinah itu bid'ah sesat.

19. Dia mengharamkan mobil pembawa jenazah karena termasuk bid'ah.

2O. Dia melarang memakmurkan mushola karena yang diperintahkan itu memakmurkan masjid.

21. Dia dengan tanpa dalil menetapkan الله memiliki wajah tanpa kepala.

Makar Jahat Akun Dusta Ummu Andini Haidar Rabu, 10-03-1447 H/03-09-2025 M

  Makar Jahat Akun Dusta Ummu Andini Haidar  Rabu, 10-03-1447 H/03-09-2025 M Maka kita katakan : 🔸 Itu termasuk perbuatan merubah dan mend...